SUKABUMI, HR — Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama para ahli arkeologi tengah menyusun Katalog Koleksi Keramik Museum Prabu Siliwangi sebagai upaya pendokumentasian ilmiah sekaligus penguatan fungsi edukasi museum bagi masyarakat.
Penyusunan katalog dilakukan melalui proses inventarisasi, seleksi, dokumentasi, dan kajian mendalam terhadap ratusan koleksi keramik yang tersimpan di museum tersebut. Kegiatan lapangan berlangsung selama sepekan dengan fokus memilih serta memotret artefak yang memiliki nilai sejarah, arkeologis, dan artistik tinggi.
Anggota tim peneliti BRIN sekaligus ahli sejarah masa Hindu-Buddha dan keramologi, Yusmaini Eriawati, menjelaskan bahwa penyusunan katalog merupakan tindak lanjut dari penelitian yang sebelumnya telah dilakukan terhadap koleksi museum.
Menurutnya, katalog tersebut tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi koleksi, tetapi juga menjadi sumber informasi ilmiah yang dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, penelitian akademik, dan pelestarian benda-benda bersejarah.
“Katalog ini bukan sekadar dokumentasi koleksi, tetapi menjadi media edukasi yang menjelaskan sejarah, asal-usul, fungsi, hingga periodisasi setiap artefak yang dipilih,” ujarnya.
Dalam proses penyusunannya, tim melibatkan anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia yang bertugas melakukan identifikasi, klasifikasi, penyusunan data, hingga penulisan deskripsi ilmiah setiap koleksi yang akan dimuat dalam katalog.
Dari ratusan koleksi yang tersimpan, sekitar 70 artefak telah didokumentasikan melalui proses fotografi. Namun, tim memperkirakan hanya sekitar 50 artefak pilihan yang akan dimasukkan ke dalam katalog karena dinilai paling representatif dan memiliki nilai unggulan atau masterpiece.
Yusmaini mengungkapkan bahwa koleksi yang dikaji berasal dari berbagai wilayah dan periode sejarah, mulai dari keramik Tiongkok, Jepang, Vietnam, Thailand, hingga Eropa. Keberagaman tersebut menjadi salah satu keunggulan Museum Prabu Siliwangi karena mampu menggambarkan perkembangan perdagangan dan interaksi budaya internasional yang pernah berlangsung di Nusantara.
“Untuk koleksi keramik Tiongkok misalnya, di sini terdapat koleksi dari berbagai dinasti yang cukup lengkap. Hal ini menjadi nilai penting karena dapat menggambarkan hubungan perdagangan dan budaya pada masa lalu,” jelasnya.
Selain koleksi keramik asing, katalog juga akan memuat artefak lokal Nusantara berupa terakota dari masa Majapahit. Salah satu koleksi yang mendapat perhatian khusus adalah sejumlah celengan terakota yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.
Keberadaan koleksi lokal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan budaya Nusantara berlangsung seiring dengan masuknya pengaruh budaya asing melalui jalur perdagangan pada masa lampau.
Setelah proses dokumentasi dan penulisan selesai, naskah katalog akan memasuki tahap finalisasi bersama pihak museum sebelum dicetak dan diterbitkan. Museum juga akan mengurus ISBN sebagai identitas resmi publikasi.
Tim peneliti berharap katalog tersebut menjadi langkah awal dalam pengembangan Museum Prabu Siliwangi sebagai pusat pembelajaran sejarah, kebudayaan, dan arkeologi yang lebih terbuka bagi masyarakat, pelajar, mahasiswa, maupun peneliti.
“Kami merekomendasikan agar koleksi ini terus dikembangkan dan didokumentasikan secara berkelanjutan. Ke depan, katalog ini diharapkan menjadi referensi penting bagi penelitian, skripsi mahasiswa, maupun kajian sejarah dan arkeologi lainnya,” pungkas Yusmaini.
Penyusunan katalog ini menjadi salah satu langkah strategis dalam menjaga, mendokumentasikan, dan memperkenalkan kekayaan warisan budaya yang dimiliki Museum Prabu Siliwangi kepada generasi masa kini dan mendatang. ida







