LANDAK, HR — Penggantian kWh meter oleh petugas PLN ULP Ngabang di Dusun Sebatih, Desa Sebatih, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, justru memicu keluhan keras dari keluarga pelanggan. Alih-alih berjalan lancar, proses yang disebut sebagai bagian dari pemeliharaan itu diduga diikuti gangguan serius pada aliran listrik di rumah sekaligus warung milik keluarga Alm. Adil.
Ibu Yeni, putri almarhum yang kini menempati rumah tersebut, mengungkapkan bahwa sebelum penggantian meter dilakukan, kondisi listrik berjalan normal tanpa kendala berarti. Namun situasi berubah tak lama setelah petugas PLN melakukan penggantian pada Selasa (23/6/2026) sekitar pukul 16.30 WIB.
Dua petugas PLN ULP Ngabang yang datang ke lokasi diketahui bernama Yongki dan Fransisco Mardanus alias Doyok, berdasarkan surat pemberitahuan pemeliharaan APP yang diterima pelanggan sebelumnya. Meski keluarga menyatakan tidak keberatan dengan proses tersebut, mereka menegaskan tidak menyangka akan muncul persoalan baru setelahnya.

“Setelah meter diganti, lampu jadi redup sampai padam, kulkas juga tidak normal. Ini jelas mengganggu usaha warung kami,” ungkap pihak keluarga.
Dampak gangguan tersebut tidak hanya dirasakan di rumah, tetapi juga langsung menghantam aktivitas usaha warung, terutama pada peralatan pendingin yang digunakan untuk menyimpan es krim dagangan. Kondisi ini membuat keluarga khawatir terjadi kerugian ekonomi jika gangguan berlanjut.
Upaya menghubungi petugas maupun pihak manajemen PLN ULP Ngabang yang disebutkan sebelumnya juga tidak membuahkan hasil. Nomor kontak yang diberikan keluarga mengaku tidak aktif, sementara upaya komunikasi dengan manajer unit juga tidak tersambung.
Merasa tidak mendapat kepastian, keluarga akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Sengah Temila. Menindaklanjuti laporan itu, dua personel piket kepolisian turun langsung ke lokasi dan meminta agar PLN darurat segera melakukan penanganan.
Sekitar pukul 20.03 WIB, petugas PLN darurat tiba di lokasi dan melakukan pengecekan hingga perbaikan. Aliran listrik akhirnya kembali normal setelah penanganan dilakukan di lapangan.
Namun demikian, keluarga menyoroti adanya opsi penambahan daya dengan biaya sekitar Rp2,3 juta yang disebut sebagai salah satu solusi. Pihak keluarga mempertanyakan dasar serta mekanisme pembebanan biaya tersebut, di tengah dugaan bahwa gangguan justru muncul setelah penggantian kWh meter dilakukan.
Keluarga juga mendesak PLN ULP Ngabang memberikan penjelasan resmi terkait penyebab gangguan listrik yang terjadi, sekaligus melakukan pengecekan menyeluruh terhadap instalasi maupun jaringan listrik di lokasi pelanggan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PLN ULP Ngabang masih dalam upaya dimintai konfirmasi untuk memberikan keterangan resmi terkait keluhan yang muncul di lapangan. lundak pakpahan






