MEMPAWAH, HR — Kepergian Perianto, remaja asal Desa Pak Utan, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan masyarakat Kalimantan Barat.
Di tengah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Perianto mengembuskan napas terakhir setelah mengalami kecelakaan saat bergotong royong memasang umbul-umbul dan Bendera Merah Putih.
Kepergian Perianto menjadi pengingat bahwa nasionalisme tidak hanya hadir melalui upacara dan seremoni. Semangat cinta Tanah Air juga tumbuh melalui tindakan nyata, kebersamaan, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Perianto bukan tokoh nasional. Namun, pengabdiannya mencerminkan kecintaan seorang anak desa terhadap bangsa dan negara. Ia ikut mengambil bagian dalam menyambut peringatan kemerdekaan dengan memasang berbagai atribut Merah Putih bersama masyarakat.
Di saat masyarakat Indonesia merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kisah Perianto menjadi catatan tentang arti pengorbanan dan gotong royong.
Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga. Masyarakat juga kehilangan sosok muda yang menunjukkan kepedulian melalui tindakan sederhana untuk menyemarakkan kemerdekaan.
Semangat tersebut menjadi pesan bagi generasi muda agar terus menjaga gotong royong, kepedulian, dan rasa cinta terhadap Tanah Air.
Perianto mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah. Namun, ketulusan pengabdiannya akan tetap dikenang oleh keluarga dan masyarakat yang menyaksikan perjuangannya menyambut berkibarnya Sang Merah Putih.
Selamat jalan, Perianto. Semoga pengabdian dan semangatmu menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mencintai negeri melalui tindakan nyata.
