Pasamoan Inohong Sunda di Jakarta Dorong Gagasan Ekoregion Sunda

BANDUNG, HR — Pasamoan Inohong Sunda di Jakarta menjadi ruang bagi para sesepuh, tokoh masyarakat, dan inohong Sunda untuk kembali meneguhkan nilai budaya sekaligus membahas tantangan pembangunan di masa depan.

Dalam pertemuan tersebut, gagasan Ekoregion Sunda mengemuka sebagai konsep kolaborasi untuk menjaga lingkungan, memperkuat ekonomi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mendorong pembangunan yang lebih berkeadilan.

Para tokoh Sunda mengingatkan kembali filosofi silih asih, silih asah, silih asuh sebagai nilai dasar dalam membangun kehidupan masyarakat. Nilai tersebut dinilai tidak sekadar menjadi warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi fondasi dalam menghadapi perubahan zaman.

Pesan leluhur Sunda, “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak,” turut menjadi pengingat agar pembangunan tetap menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian alam.

Perubahan lingkungan, ketimpangan ekonomi, pengelolaan sumber daya alam, hingga kesejahteraan masyarakat dinilai membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh.

Karena itu, Ekoregion Sunda ditawarkan bukan sebagai batas pemisah antardaerah. Gagasan tersebut justru diarahkan sebagai ruang kolaborasi antara Sunda, Cirebon, Banten, dan Betawi yang memiliki keterkaitan sejarah, budaya, serta kehidupan sosial.

Melalui kolaborasi tersebut, pembangunan diharapkan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi. Pembangunan juga harus memberikan keadilan serta manfaat yang lebih merata bagi masyarakat.

Dalam forum itu, otonomi daerah turut menjadi perhatian. Pembentukan daerah otonomi baru untuk kabupaten, kota, maupun provinsi dinilai dapat menjadi salah satu jalan bagi daerah untuk mengembangkan potensi, memperkuat kemandirian, dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Namun, otonomi daerah membutuhkan dukungan keadilan fiskal. Daerah yang menjaga hutan, melindungi sumber air, dan mempertahankan lingkungan sebagai penopang kehidupan nasional dinilai layak memperoleh manfaat yang lebih adil.

Keadilan, dalam pandangan tersebut, bukan hanya soal pembagian hasil. Lebih dari itu, keadilan harus menjadi bentuk penghargaan terhadap kontribusi setiap daerah dalam menjaga keberlanjutan kehidupan.

Semangat tersebut dirangkum dalam gagasan “Ngamumule alam, ngawangun kamajuan; ngajaga budaya, nguatkeun bangsa; ngahijikeun keberagaman, ngahontal kaadilan.”

Pasamoan Inohong Sunda juga menegaskan bahwa Sunda tidak boleh hanya berbicara mengenai masa lalu. Budaya Sunda diharapkan mampu melahirkan gagasan, ilmu pengetahuan, dan karya yang memberi kontribusi bagi Indonesia.

Budaya dipandang sebagai akar. Ilmu menjadi cahaya. Kolaborasi menjadi kekuatan. Sementara keadilan menjadi cita-cita yang harus terus diperjuangkan.

Nilai tersebut diharapkan dapat diwariskan kepada generasi muda. Bukan hanya dalam bentuk kebanggaan terhadap sejarah dan budaya Sunda, tetapi juga melalui tanggung jawab untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Dari Tatar Sunda, gagasan tersebut diarahkan untuk berkontribusi bagi terwujudnya Indonesia yang lebih maju, adil, dan bermartabat. horaz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *