LAMSEL, HR — Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menegaskan komitmennya untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah, termasuk Situs Makam Keramat Leluhur Puyang Singa Langkung di kawasan Marga Dantaran, Kecamatan Penengahan.
Komitmen tersebut disampaikan saat Bupati Egi berziarah ke situs bersejarah yang dikenal sebagai Keramat Cangkuang, Rabu (17/6/2026). Dalam kunjungan itu, ia menyatakan kesiapan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan untuk mengelola situs tersebut sebagai aset daerah guna menjamin pelestariannya secara berkelanjutan.
Kehadiran Bupati Egi yang menyandang gelar adat Khadin Sampurna disambut melalui prosesi adat oleh Pangeran Naga Beringsang, Dalom Singa Langkung, Silom Singa Langkung, serta jajaran kakhya dan punggawa adat Marga Dantaran.
Dalam sambutan adat yang diawali dengan sekapur sirih, perwakilan masyarakat adat, Dalom Kusuma Ratu, menyampaikan rasa bangga atas kunjungan perdana seorang Bupati Lampung Selatan ke situs keramat tersebut.
“Suatu kehormatan bagi kami. Baru kali ini kami disambangi seorang bupati. Terima kasih kepada Bapak Bupati yang dengan kerendahan hati berkenan hadir langsung ke tempat yang sangat bersejarah bagi kami,” ujar Dalom Kusuma Ratu.
Pada kesempatan itu, tokoh adat dan keluarga besar Marga Dantaran menyampaikan harapan agar Makam Keramat Puyang Singa Langkung atau Keramat Cangkuang dapat dikelola pemerintah daerah sehingga mendapatkan perlindungan dan perawatan yang lebih optimal.
Selain menyampaikan aspirasi, para tokoh adat juga memaparkan sejarah Puyang Singa Langkung yang bergelar Ratu Gusti Sakti. Tokoh tersebut diyakini sebagai salah satu leluhur yang berperan dalam pembentukan tatanan masyarakat di kawasan Gunung Rajabasa, khususnya wilayah adat Marga Dantaran.
Masyarakat setempat meyakini Puyang Singa Langkung tiba di wilayah tersebut sekitar abad ke-14. Situs makam yang diziarahi berada di kawasan pemakaman kuno yang dahulu dikenal sebagai Keramat Cangkuang, merujuk pada keberadaan Pohon Cangkuang berukuran besar yang pernah tumbuh di lokasi itu.
Menanggapi aspirasi masyarakat adat, Bupati Egi menegaskan bahwa pelestarian sejarah dan budaya merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijaga lintas generasi.
“Saya selama di Lampung Selatan mungkin belum banyak mengetahui tentang para leluhur di sini. Namun melalui momentum 1 Muharam kemarin, hal itu mulai terbuka. Dan secara qadarullah saya telah dianugerahi adok dari Marga Dantaran. Maka sudah menjadi keharusan bagi saya untuk datang berziarah ke sini,” kata Egi.
Ia juga menyatakan siap merealisasikan harapan masyarakat adat terkait pengelolaan situs makam tersebut sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya daerah.
“Harapan saya, seluruh masyarakat dapat terus merawat budaya dan menjaga kerukunan antar marga. Saya juga memohon doa agar selalu diberikan perlindungan dalam menjalankan amanah memimpin Lampung Selatan,” tegasnya.
Bupati Egi turut mengingatkan pentingnya mengenalkan sejarah dan identitas leluhur kepada generasi muda agar mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang akar budaya dan jati diri daerah.
Menurutnya, Lampung Selatan memiliki kekayaan budaya dan adat istiadat yang bernilai tinggi sehingga harus terus diwariskan kepada generasi penerus.
“Generasi muda harus memahami sejarah dan mengenal siapa leluhurnya. Dengan begitu mereka memiliki pegangan yang kuat dalam menggapai cita-cita. Lampung Selatan sangat kaya akan budaya dan adat istiadat yang bernilai tinggi, dan menjadi tugas kita bersama untuk mewariskannya kepada anak cucu,” pungkasnya.
Prosesi ziarah ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Temunggung Sangon Dia, Drs. H. Hariri Usman, dalam suasana khidmat dan penuh penghormatan terhadap warisan leluhur Marga Dantaran. santi
