JAKARTA, HR – Proyek pembangunan saluran yang dikerjakan Suku Dinas Sumber Daya Air (Sudin SDA) Jakarta Barat di Jalan Joglo Raya, Kecamatan Kembangan, menuai keluhan dari warga dan para pelaku usaha di sekitar lokasi. Berdasarkan informasi pada papan proyek, pekerjaan tersebut merupakan pembangunan saluran Jalan Joglo Raya yang dilaksanakan oleh PT Sinergi Cipta Presisi dengan masa pekerjaan mulai 5 Juni hingga 3 Oktober 2026 menggunakan anggaran APBD.
Keluhan warga bukan hanya tertuju pada proses pembangunan, tetapi juga dampak yang ditimbulkan selama proyek berlangsung. Tumpukan tanah merah yang dibiarkan berada di sisi jalan menjadi sumber persoalan baru. Memasuki musim kemarau, debu dari tanah tersebut beterbangan setiap kali kendaraan melintas, mengganggu aktivitas masyarakat dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengguna jalan maupun warga yang tinggal di sekitar lokasi proyek.
Salah seorang warga mengaku kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama tanpa adanya upaya maksimal untuk mengendalikan debu.
“Setiap hari debunya beterbangan karena sekarang musim panas. Tanah merah di pinggir jalan itu kering, begitu ada motor atau mobil lewat langsung berhamburan. Rumah, kendaraan, sampai barang dagangan jadi penuh debu. Kami berharap kontraktor rutin menyiram jalan agar debu tidak terus mengganggu masyarakat,” keluh seorang warga, yang tak ingin namanya disebutkan, Jumat (24/07/2026).

Selain persoalan debu, penutupan sebagian akses jalan akibat proyek juga dikeluhkan para pemilik warung dan toko di sepanjang Jalan Joglo Raya. Mereka mengaku omzet usaha mengalami penurunan karena pelanggan kesulitan mengakses lokasi usaha.
Seorang pemilik warung mengatakan sejak akses jalan ditutup, jumlah pembeli turun drastis.
“Sejak jalan ditutup, pembeli jauh berkurang. Banyak pelanggan yang memilih putar balik atau mencari jalan lain karena akses sulit. Omzet kami turun cukup besar. Kami tidak menolak pembangunan, tetapi seharusnya pelaksana proyek juga memikirkan nasib pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari usaha di sepanjang jalan ini,” kata pedang warung dilokasi.
Pedagang lainnya berharap pekerjaan dilakukan dengan manajemen yang lebih baik sehingga dampak terhadap masyarakat dapat diminimalkan.
“Kalau memang proyek untuk kepentingan masyarakat, kami mendukung. Tetapi jangan sampai warga dan pedagang yang menjadi korban. Kenapa pihak SDA tidak memperhitungkan dampak sosial terhadap masyarakat sekitar, kalau memang ada perhitungan pihak SDA tidak mungkin Debu tidak dikendalikan, akses keluar masuk harus tetap diperhatikan, dan jangan sampai usaha kecil kehilangan pelanggan selama berbulan-bulan,” ketusnya lagi.

Proyek kedua berada di Jalan Kembangan Utara dan Jalan H. Mading, Kecamatan Kembangan. Pembangunan saluran tersebut juga mengabaikan tentang sisa-sisa bekas urukan tanah galian saluran yang dibiarkan begitu saja, tanpa dibersihkan setiap harinya.
Padahal jalur tersebut sangat padat apabila di pagi hari dan sore, jalan tersebut tidak ditutup permanen. Berbeda dengan dilokasi Joglo Raya, dikarenakan jalan tersebut mengarah ke Kantor Kelurahan dan Kantor Wali Kota Jakarta Barat.
Proyek saluran tersebut di kerjakan oleh PT. Mulia Graha Parulian, pantauan media beberapa kali melihat proyek tersebut, jarang sekali bertemu dengan pihak pelaksana maupun pengawas.
Warga berharap Sudin SDA Jakarta Barat sebagai pemilik kegiatan segera melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan proyek dan meminta kontraktor meningkatkan pengendalian debu melalui penyiraman jalan secara berkala, membersihkan sisa material yang berserakan, serta membuka akses yang memudahkan masyarakat dan pelaku usaha tetap menjalankan aktivitas ekonomi selama proyek berlangsung.
Masyarakat juga meminta pengawasan dari Sudin SDA Jakarta Barat diperketat agar pelaksanaan proyek tidak hanya mengejar target penyelesaian fisik, tetapi juga memperhatikan keselamatan, kenyamanan, kesehatan lingkungan, serta keberlangsungan ekonomi warga yang terdampak langsung oleh pekerjaan tersebut.
Saat dikonfirmasi media, Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat Mustajab jarang sekali berada dikantornya. Jawaban dari Kasudin SDA Jakarta Barat, akan kami muat di berita selanjutnya. •didit






