MAJALENGKA, HR — Lonjakan pencari kerja yang membuat kartu kuning atau AK-1 di Mal Pelayanan Publik Majalengka menyebabkan antrean panjang setiap hari.
Meningkatnya jumlah pemohon terjadi seiring tingginya kebutuhan masyarakat untuk melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan maupun instansi.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Selasa (12/5/2026), ratusan pencari kerja sejak pagi sudah memadati area pelayanan kartu kuning. Banyak warga rela datang lebih awal demi mendapatkan nomor antrean.
Operator pelayanan kartu kuning, Tahjudiya, mengatakan jumlah pemohon terus meningkat hingga mencapai lebih dari 400 orang per hari. Sementara kuota pencetakan kartu kuning hanya sekitar 200 kartu setiap harinya.
“Setiap hari pembuat kartu kuning membeludak, bisa sampai lebih dari 400 orang. Sedangkan kuota pencetakan setiap hari hanya sekitar 200 kartu. Biasanya pelayanan pencetakan baru selesai sekitar pukul 16.00 WIB,” ujarnya.
Ia menjelaskan keterbatasan fasilitas menjadi kendala utama dalam pelayanan. Saat ini proses pelayanan hanya ditangani empat operator dengan dukungan dua unit komputer.
“Operator hanya empat orang dan komputer yang digunakan hanya dua unit, jadi memang cukup kewalahan menghadapi antrean yang terus meningkat,” katanya.
Meski menghadapi keterbatasan, petugas tetap berupaya memberikan pelayanan maksimal agar seluruh pemohon dapat terlayani dengan baik.
Salah seorang pencari kerja asal Kecamatan Jatiwangi, Rizky (22), mengaku datang sejak pagi agar mendapatkan nomor antrean.
“Datang dari jam tujuh pagi supaya kebagian nomor antrean. Soalnya kalau kesiangan biasanya antreannya sudah penuh,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Siti Nurjanah (20), warga Kecamatan Kadipaten. Ia berharap fasilitas dan jumlah petugas pelayanan dapat ditambah agar masyarakat tidak menunggu terlalu lama.
“Semoga fasilitas dan petugasnya bisa ditambah, karena yang bikin kartu kuning sekarang banyak sekali,” katanya.
Pencari kerja lainnya, Andri (24), mengatakan kartu kuning menjadi salah satu syarat administrasi untuk melamar pekerjaan di sejumlah perusahaan.
“Sekarang banyak lowongan yang minta kartu kuning sebagai syarat administrasi, jadi mau tidak mau harus bikin,” tuturnya.
Lonjakan pemohon kartu kuning tersebut menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat dalam mencari pekerjaan sekaligus menjadi tantangan bagi pelayanan publik di tengah keterbatasan fasilitas dan sumber daya. lintong









