Noni Hidayat: Tradisi Nganggung Tetap Penting di Era Modern

PANGKALPINANG, HR — Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Noni Hidayat Arsani, menilai tradisi Nganggung masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat modern.

Menurut Noni, suasana kebersamaan yang tercipta dalam Festival Nganggung menjadi bukti bahwa masyarakat masih menjaga dan menghargai tradisi lokal.

Hal itu disampaikan Noni saat menghadiri Festival Nganggung dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M di Masjid Raya Tuatunu, Pangkalpinang, Selasa (25/8/2026).

“Di sini antara pemerintah dengan masyarakat kita berbaur, bersilaturahmi dan mengikhtiarkan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan acara seperti ini terus kita laksanakan, semakin banyak, semakin ramai,” ucap Noni.

 

Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Agus Suryadi, yang hadir mewakili Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani, mengatakan Nganggung merupakan salah satu cerminan jati diri masyarakat Bangka Belitung.

Menurut Agus, tradisi Nganggung mengandung nilai gotong royong, kebersamaan, silaturahmi, dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Tradisi tersebut juga menjadi simbol persatuan karena masyarakat dapat duduk dan berbaur bersama tanpa membedakan status sosial, usia, maupun latar belakang.IMG 20260826 WA0021

Karena itu, Agus mengajak masyarakat terus menjaga budaya lokal sebagai kekuatan yang dapat mempererat persatuan sekaligus mendukung pembangunan daerah.

“Festival Nganggung ini cerminan jati diri masyarakat Bangka Belitung yang menjunjung tinggi nilai gotong royong, kebersamaan, silaturahmi dan rasa syukur kepada Allah SWT. Melalui Festival Nganggung, mari kita terus menjaga persatuan dan menjadikan budaya sebagai kekuatan pemersatu sekaligus modal pembangunan daerah,” ajak Agus.

Sementara itu, Ketua Lembaga Adat Melayu Tuatunu, Zulkipli, mengatakan Nganggung menjadi simbol kebersamaan yang tidak mengenal batas sosial, ekonomi, usia, maupun gender.

Menurut Zulkipli, tradisi tersebut mempertemukan masyarakat dalam satu ruang untuk duduk bersama dan menikmati berbagai makanan.

“Nganggung adalah simbol dari persatuan dan kesatuan di antara kita. Dengan nganggung inilah kita dapat bersama-sama duduk di sini, makan makanan yang beranekaragam,” ujar Zulkipli.

Zulkipli mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan Nganggung sekadar kegiatan seremonial. Ia mendorong masyarakat terus memelihara tradisi tersebut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Adat istiadat dan budaya lokal inilah yang harus kita lestarikan di Kota Pangkalpinang,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, pemerintah juga menetapkan Tradisi Nganggung sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Penetapan ini menjadi salah satu langkah pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan tradisi lokal masyarakat Bangka Belitung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *