JAKARTA, HR — Kelurahan Pela Mampang, Kecamatan Mampang Prapatan, menyediakan satu teba modern dan 14 lubang biopori jumbo sebagai upaya mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
Lurah Pela Mampang, Teuku Aji, mengajak masyarakat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk mengolah sampah organik sejak dari rumah. Menurutnya, langkah ini dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan.
“Ini merupakan salah satu upaya untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Sampah yang biasanya langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir kini dapat dipilah terlebih dahulu mulai dari rumah masing-masing,” ujar Teuku.
Ia menjelaskan, lubang biopori digunakan untuk mengolah sampah organik, seperti sisa makanan, kulit buah, dan sampah basah lainnya. Sementara itu, sampah yang masih memiliki nilai daur ulang dipilah untuk kemudian dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup dan bank sampah di setiap RW.
“Sedangkan untuk sampah yang dapat didaur ulang akan dipilah dan nantinya diambil oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup. Bank sampah di setiap RW juga sudah aktif beroperasi,” katanya.
Kader PKK Kelurahan Pela Mampang, Nunung, mengatakan pihaknya terus menyosialisasikan pemilahan sampah kepada masyarakat sesuai Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
Selain mengedukasi warga mengenai pemilahan sampah, para kader PKK juga mengenalkan pembuatan eco-enzyme di sejumlah lingkungan RW.
“Kami mengajak warga melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah. Kami juga memberikan edukasi tentang pembuatan eco-enzyme yang bermanfaat membantu mengurai sisa makanan sekaligus mengurangi aroma tidak sedap dari sampah organik,” tutur Nunung.
Kelurahan Pela Mampang berharap keberadaan teba modern, lubang biopori, serta edukasi kepada masyarakat dapat meningkatkan kesadaran warga dalam mengelola sampah sekaligus mengurangi beban sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang. rg






