PANGKALPINANG, HR — Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Pemprov Babel) bersama PT PLN (Persero) mematangkan realisasi Interkoneksi Kelistrikan Sumatera-Bangka Tahap II. Proyek strategis ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.
Pemprov Babel menilai interkoneksi tersebut dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus membuka peluang masuknya investasi berskala besar ke Bangka Belitung.
Pembahasan proyek berlangsung di Ruang Rapat Tanjung Pesona, Kantor Gubernur Bangka Belitung, Senin (1/9/2026).
Proyek Interkoneksi Sumatera-Bangka Tahap II masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Proyek tersebut akan menambah pasokan daya melalui pembangunan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Kabel Laut Tegangan Tinggi (SKLT).
Plt. Kepala Biro Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Babel, M. Yunus, yang mewakili Gubernur Babel Hidayat Arsani, mengatakan pemerintah daerah terus memperkuat sistem kelistrikan untuk mencegah krisis energi.
Menurut Yunus, kondisi pasokan listrik Babel saat ini sudah surplus. Penambahan kapasitas melalui interkoneksi tahap kedua akan semakin memperkuat cadangan energi daerah.
“Saat ini kita sebetulnya sudah surplus. Dari beban puncak 190 kV, kita masih ada sisa. Dengan tambahan 150 kV nanti, total kapasitas kelistrikan Bangka Belitung akan semakin luar biasa menembus 300 kV. Ini akan memastikan daerah kita tidak akan kesulitan listrik lagi,” jelas Yunus.
Ia menjelaskan, salah satu keunggulan proyek tahap kedua terletak pada efisiensi jalur kabel bawah laut. Jaringan SKLT akan menghubungkan wilayah Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), menuju Desa Marina dan berakhir di Desa Permis, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan.
“Jarak tempuh kabel lautnya sangat efisien, hanya 14 kilometer. Ini sebuah pencapaian dan lompatan besar jika dibandingkan dengan pembangunan Tahap I dari Tanjung Api-api ke Mentok yang bentangannya mencapai 63 kilometer,” paparnya.
Yunus optimistis tambahan pasokan listrik yang andal akan meningkatkan daya tarik Bangka Belitung bagi investor.
“Melalui ketersediaan energi yang melimpah dan andal ini, Bangka Belitung akan semakin memikat dan siap menyambut masuknya para investor berskala besar,” sambungnya.
Sementara itu, Assistant Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Selatan, Dimas Kriesta Wijaya, menjelaskan titik pendaratan utama proyek. Jalur tersebut menghubungkan Sumatera Landing Point di Tanjung Tapah, OKI, dengan Bangka Landing Point di Tanjung Berani, Bangka Selatan.
PLN juga akan membangun SUTT 150 kV Koba–Bangka Landing Point Tahap II sepanjang 132 kilometer. Selain itu, PLN menyiapkan SUTT 150 kV Mariana–Sumatera Landing Point Tahap II sepanjang 220 kilometer.
Untuk mendukung sistem transmisi tersebut, PLN merencanakan pembangunan Gardu Induk (GI) baru di Koba, Bangka Tengah. GI tersebut akan mendukung GI tahap pertama yang sudah beroperasi di Mentok.
Dimas mengatakan proyek saat ini telah menyelesaikan studi kelayakan. PLN juga mempercepat proses perizinan, termasuk Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR), Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut, dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
Ia menyebut proyek akan memasuki konstruksi fisik pada 2027. PLN menargetkan proyek mencapai Commercial Operation Date (CoD) pada 2028.
“Pemerintah daerah bersama PLN telah memetakan ekspansi lanjutan, meliputi interkoneksi Tanjung Berikat menuju Selat Nasik, serta perluasan jaringan dari Sadai menuju gugusan kepulauan seperti Pulau Lepar, Pongok, Selat Nasik, hingga menembus Tanjung Ru di Belitung,” pungkas Dimas.
