Kabut Asap Selimuti Humbahas, Kasus ISPA Sempat Naik, Dinkes Pastikan Stok Obat Aman

HUMBAHAS, HR — Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, meningkatkan kewaspadaan pemerintah daerah terhadap kesehatan masyarakat dan kegiatan pendidikan. Data Dinas Kesehatan P2KB Humbahas mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sempat meningkat pada awal Oktober 2026, meski kemudian mengalami penurunan.

Berdasarkan laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), kasus ISPA naik dari 148 kasus pada minggu keempat September menjadi 189 kasus pada minggu pertama Oktober. Pada minggu kedua Oktober, jumlah kasus turun menjadi 170, atau berkurang 19 kasus dari pekan sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut masih 22 kasus lebih tinggi dibandingkan akhir September.

Kepala Dinas Kesehatan Humbahas, Alexander Gultom, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan kasus melalui SKDR dan memperkuat kewaspadaan dini untuk mengantisipasi peningkatan kasus.

“Meskipun terjadi penurunan sebanyak 19 kasus dari minggu sebelumnya, jumlah kasus masih lebih tinggi dibandingkan akhir September. Dinas Kesehatan terus melakukan pemantauan dan evaluasi melalui SKDR serta memperkuat kewaspadaan dini dan tindak lanjut di lapangan untuk mengantisipasi perkembangan kasus selanjutnya,” ujar Alexander.

Alexander memastikan persediaan obat-obatan masih mencukupi. Pemerintah daerah juga masih melakukan pengadaan masker untuk mendukung upaya pencegahan dampak kabut asap.

Namun, berdasarkan hasil koordinasi dengan BMKG Silangit, fasilitas tersebut belum memiliki alat pengukur kualitas udara. Akibatnya, pemerintah belum memperoleh data terukur mengenai tingkat paparan kabut asap di wilayah Humbahas.

Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan Humbahas menerbitkan Surat Edaran Nomor 2976 Tahun 2026 tentang Kewaspadaan terhadap Dampak Kabut Asap di Kabupaten Humbang Hasundutan.

Surat edaran tersebut meminta sekolah mengurangi atau meniadakan kegiatan luar ruangan ketika kabut asap pekat atau kondisi udara tidak mendukung. Sekolah juga diminta memberikan edukasi mengenai bahaya kabut asap, mengimbau siswa menggunakan masker, serta memberi perhatian khusus kepada peserta didik yang memiliki riwayat asma atau gangguan pernapasan.

Jika siswa mengalami gangguan kesehatan, pihak sekolah diminta berkoordinasi dengan orang tua atau wali serta Puskesmas. Siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut harus segera dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Dinas Kesehatan juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah dan menghindari aktivitas fisik berat ketika kabut asap meningkat. Warga dianjurkan memakai masker yang menutupi hidung dan mulut, menutup pintu serta jendela, menghindari pembakaran terbuka, dan menjaga asupan makanan serta cairan.

Masyarakat perlu segera mendatangi Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami batuk, sesak napas, napas berbunyi, nyeri dada, iritasi mata, sakit tenggorokan, pusing, atau keluhan lain yang memburuk.

Bayi, balita, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta warga dengan penyakit pernapasan, jantung, dan penyakit kronis menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian khusus selama kondisi kabut asap berlangsung.

Selain sektor kesehatan, pemerintah daerah juga membahas dampak kabut asap terhadap kegiatan belajar mengajar. Dinas Pendidikan Humbahas berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menindaklanjuti surat edaran Kementerian Pendidikan mengenai Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Kepala Dinas Pendidikan Humbahas, Martahan Panjaitan, mengatakan pihaknya telah melaporkan persoalan tersebut kepada Bupati Humbahas, Dr. Oloan Paniaran Nababan. Pemerintah daerah menjadwalkan pembahasan lebih lanjut dalam rapat pada Jumat (16/10/2026) sekitar pukul 09.00 WIB.

“Koordinasi lintas sektoral terus kami lakukan. Terkait surat edaran Kementerian Pendidikan mengenai Pembelajaran Jarak Jauh, hal ini sudah kami laporkan kepada Bapak Bupati dan akan dibahas lebih lanjut dalam rapat pagi ini sekitar pukul 09.00 WIB. Kami juga terus memantau kondisi riil di lapangan dengan berkoordinasi bersama seluruh kepala sekolah SD, SMP, TK, dan PAUD di wilayah Humbang Hasundutan,” ujar Martahan.

Pemerintah daerah akan mempertimbangkan kondisi aktual di setiap satuan pendidikan sebelum menentukan kebijakan lanjutan. Pemantauan kasus ISPA, ketersediaan obat-obatan, pengadaan masker, serta pembahasan opsi pembelajaran menjadi bagian dari langkah pemerintah menghadapi kabut asap di Humbahas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *