SAMOSIR, HR — Anggota Komisi E DPRD Sumatera Utara, Pantur Banjarnahor, mendorong pengembangan Danau Toba sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya Batak.
Menurut Pantur, pengelola perlu memadukan kekuatan alam dengan atraksi budaya, infrastruktur, sumber daya manusia, dan pelayanan wisata. Upaya tersebut dapat meningkatkan daya tarik wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.
Pantur menyampaikan hal itu saat melaksanakan reses I masa persidangan III Tahun Sidang 2026/2027 di SMKN 1 Pariwisata Simanindo, Kabupaten Samosir, Selasa (22/9/2026).
Di hadapan siswa dan peserta pertemuan, Pantur menyoroti sejumlah kebutuhan untuk mendukung pengembangan Danau Toba sebagai kawasan pariwisata superprioritas.
“Kita ingin sarana dan prasarana terpenuhi untuk menarik wisatawan datang berkunjung ke Danau Toba. Kita ingin puluhan juta wisatawan datang berkunjung setiap tahunnya dan membawa uang ke sini,” kata Pantur.
Menurutnya, kesiapan kawasan wisata juga mencakup fasilitas bagi wisatawan dengan latar belakang berbeda. Fasilitas tersebut antara lain musala atau masjid, kuliner berstandar halal, homestay, hotel berstandar internasional, serta pelayanan dan keramahan masyarakat.
Pantur juga menyoroti pentingnya kesiapan generasi muda dalam mengembangkan sektor pariwisata. Ia menilai sekolah kejuruan pariwisata seperti SMKN 1 Simanindo dapat menyiapkan tenaga muda yang memahami pelayanan wisata sekaligus mengenal budaya daerah.
“Ke depan, sebagai sekolah kejuruan pariwisata, kita harus menyiapkan generasi yang memiliki attitude, karakter, dan budaya. Tidak perlu jauh-jauh merantau, dolar bisa kita dapatkan di sini,” ujarnya.
Selain menyiapkan sumber daya manusia, Pantur mendorong pengembangan atraksi budaya Batak sebagai bagian dari kegiatan wisata. Ia mengusulkan berbagai panggung dan pertunjukan budaya untuk menjadi daya tarik bagi wisatawan.
“Atraksi dan berbagai panggung budaya Batak bisa kita hadirkan sebagai tontonan menarik bagi wisatawan,” katanya.
Dorongan tersebut sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Samosir. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir, Tetti Naibaho, mengatakan Pemkab Samosir tidak hanya mengandalkan keindahan alam. Pemerintah daerah juga mengembangkan kebudayaan sebagai bagian dari sektor pariwisata.
Salah satu program yang disiapkan ialah one village, one event. Pemkab Samosir menargetkan 70 desa menjalankan program tersebut pada 2027. Saat ini, Samosir memiliki 65 sanggar seni.
Pemerintah daerah juga mendorong sekolah memiliki sanggar seni di bawah pembinaan Dewan Kesenian Samosir. Selain itu, Samosir memiliki Lembaga Adat Budaya yang telah mendapat SK Bupati dan setiap tahun menerima dukungan hibah dari pemerintah daerah.
“Target Samosir tidak hanya menjual keindahan alamnya, namun juga budaya,” kata Tetti.
Pemkab Samosir juga mengenalkan budaya kepada generasi muda melalui sekolah. Setiap Kamis, sekolah-sekolah di Samosir melaksanakan Batak Day.
Dalam program tersebut, guru dan siswa menggunakan bahasa Batak serta mempelajari umpasa dan musik tradisional. Menurut Tetti, program tersebut telah berjalan sejak 2013.
Program kebudayaan juga masuk dalam agenda pariwisata Samosir. Pada September 2026, pemerintah daerah menggelar Toba Caldera Culture Festival yang memasuki penyelenggaraan ketujuh.
“Tanggal 24 September akan dilakukan opening ceremony di Air Mancur Menari yang dihadiri 38 kontingen se-Indonesia,” ujar Tetti.
Festival tersebut menampilkan paduan suara lagu daerah. Setiap kontingen terdiri atas sekitar 30 hingga 70 orang.
Perlombaan dijadwalkan berlangsung di Hotel Marianna Resort. Panitia melibatkan juri dari Latvia, Singapura, Malaysia, Filipina, serta enam juri dari Indonesia.
“Kami sangat konsisten membangun pariwisata Samosir berbasis kebudayaan,” kata Tetti.
Reses Pantur di SMKN 1 Pariwisata Simanindo turut menampilkan pertunjukan tortor oleh siswa. Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Samosir dan Kepala SMKN 1 Pariwisata Simanindo, Perri Sagala.
