MAJALENGKA, HR — Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Umat Islam (DPD PUI) Kabupaten Majalengka menggelar Workshop Kepala Madrasah dan Sekolah PUI se-Kabupaten Majalengka, Kamis (10/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Bapermin Kabupaten Majalengka itu dirangkaikan dengan rapat koordinasi. Workshop mengusung tema “Membangun Madrasah PUI yang Unggul melalui Penguatan Tata Kelola Lembaga dan Jam’iyyah PUI.”
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kemampuan kepala sekolah dan kepala madrasah dalam mengelola lembaga pendidikan. Selain itu, peserta didorong tetap adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan karakter dan akhlak peserta didik.
Bupati Majalengka H. Eman Suherman turut hadir dalam kegiatan tersebut. Hadir pula Ketua DPD PUI Kabupaten Majalengka K.H. Asep Zaki Mulyanto beserta jajaran pengurus, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, para kepala sekolah dan madrasah PUI, Dewan Syariah, Dewan Pakar, Wanita PUI, Pemuda PUI, Hijar, Hima PUI, perwakilan DPRD, serta sejumlah mitra strategis.
Ketua DPD PUI Kabupaten Majalengka K.H. Asep Zaki Mulyanto mengatakan workshop bukan sekadar forum peningkatan kapasitas manajemen sekolah. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk meluruskan niat dan memperkuat semangat pengabdian para pengelola pendidikan.
“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menguatkan khidmat para kepala satuan dan kepala madrasah PUI. Kami menyebutnya khidmat, bukan sekadar bekerja. Jika kita niatkan berkhidmat dengan penuh keikhlasan, isyhadu bi anna muslimun, insyaAllah perjalanan ini berkah dan bernilai ibadah di hadapan Allah SWT,” ujar K.H. Asep.
Menurutnya, PUI memiliki potensi besar dalam mengembangkan pendidikan di Majalengka. Saat ini terdapat 241 lembaga pendidikan dalam naungan PUI.
Jaringan tersebut terdiri atas 38 Raudhatul Athfal (RA), 54 Madrasah Ibtidaiyah (MI), 19 MTs dan SMP, 10 MA dan SMK, serta 120 Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA).
Lembaga tersebut menaungi sekitar 1.200 guru dan lebih dari 25.000 murid di Kabupaten Majalengka. Karena itu, PUI memiliki tanggung jawab besar untuk meningkatkan tata kelola lembaga, kompetensi tenaga pendidik, dan kualitas lulusan.
Asep juga mendorong penguatan sinergi dengan Pemkab Majalengka, Kementerian Agama, serta mitra strategis lainnya. Menurutnya, kolaborasi tersebut penting untuk membangun ekosistem pendidikan yang semakin kuat.
Ia juga mengingatkan kembali visi pendidikan PUI yang telah dibangun sejak 1911. Visi tersebut membentuk generasi yang bener, pinter, dan parigel.
“Bener artinya alim fiddin, memiliki pemahaman agama dan akhlak. Pinter adalah arif bi ashrihi, mampu memahami perkembangan zaman. Sedangkan parigel adalah naf’an lil ummati, memiliki keterampilan dan mampu memberikan manfaat bagi umat,” jelasnya.
Asep menegaskan pendidikan PUI tidak cukup hanya mengembangkan kemampuan agama dan akademik. Lembaga pendidikan juga harus membekali peserta didik dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan masa depan.
“Mendidik santri agar bener dan berakhlak adalah landasan utama. Meminterkan orang yang sudah benar itu gampang, tetapi membenarkan orang pintar itu yang sulit. Santri kita juga harus parigel dan adaptif dengan zaman, bukan hanya terampil secara tradisional, tetapi juga menguasai teknologi seperti coding dan robotik,” katanya.
Sementara itu, Bupati Majalengka H. Eman Suherman mengapresiasi kiprah PUI dalam bidang pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia.
Eman menilai pengelola lembaga pendidikan PUI memiliki peran penting dalam mencetak generasi yang berkarakter, berakhlak, berpengetahuan, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
“Ini mungkin pertama kalinya saya bertatap muka langsung dengan pejuang-pejuang PUI yang selalu menebarkan kebaikan, membina, dan mencetak anak-anak kita agar berakhlakul karimah, menjadi generasi yang hebat, kuat, serta pemilik masa depan,” ungkapnya.
Menurut Eman, semangat para pendidik PUI patut mendapat apresiasi. Mereka menjalankan pendidikan bukan hanya sebagai pekerjaan, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
“Budaya yang dibangun di PUI luar biasa. Bukan lagi bicara bekerja, melainkan berkhidmat demi mencari keridaan Allah SWT,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Eman menyoroti dukungan terhadap infrastruktur madrasah dan MDTA. Ia menilai pemerintah daerah membutuhkan dasar hukum yang jelas agar dukungan melalui APBD berjalan tertib dan sesuai aturan.
Menurut Eman, Pemkab Majalengka tengah mendorong penyusunan payung hukum berupa Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Bupati (Perbup). Regulasi tersebut nantinya dapat menjadi dasar dukungan pemerintah daerah kepada madrasah, RA, dan MDTA.
“Kami sedang mendorong penyusunan Naskah Akademik bersama Kemenag dan stakeholder terkait. Kami bukan pelit, tetapi semua harus sesuai aturan agar bantuan bisa digelontorkan secara akuntabel,” tegasnya.
Eman berharap regulasi tersebut dapat memperkuat sinergi pemerintah daerah dengan lembaga pendidikan keagamaan. Dengan begitu, kebutuhan pendidikan masyarakat dapat ditangani secara lebih optimal.
Selain itu, Eman mengajak PUI ikut meningkatkan kualitas pembangunan manusia di Majalengka. Salah satu tantangan yang ia soroti ialah Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) yang saat ini berada di kisaran 7,8 tahun.
Pemkab Majalengka menargetkan RLS mencapai sembilan tahun. Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan dan lembaga pendidikan PUI.
Eman menyebut jalur pendidikan nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dapat menjadi solusi. Program tersebut dapat membuka kesempatan bagi masyarakat yang belum menyelesaikan pendidikan formal.
“Kita ingin Rata-Rata Lama Sekolah Majalengka bisa mencapai sembilan tahun. Karena itu, jangan hanya mengandalkan pendidikan formal. Jalur nonformal seperti PKBM juga harus kita kembangkan bersama,” ujarnya.
Eman juga mengingatkan para pendidik mengenai tantangan teknologi digital. Menurutnya, sekolah harus memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran.
Namun, penggunaan teknologi tetap perlu diimbangi dengan penguatan karakter dan akhlak peserta didik.
“Saya sangat khawatir jika anak-anak kita lebih nurut kepada HP daripada kepada orang tua dan gurunya. Tanpa peran pendidik yang masuk membina karakter dan akhlak, kita bisa kehilangan generasi penerus yang hebat,” kata Eman.
Ia mengajak insan pendidikan menjadikan teknologi sebagai sarana membangun generasi yang cerdas dan berkarakter.
“Teknologi harus kita kuasai, tetapi akhlak dan karakter jangan sampai ditinggalkan. Mari kita bersama-sama membangun generasi Majalengka yang bener, pinter, dan parigel,” tambahnya.
Eman berharap workshop tidak berhenti sebagai forum diskusi. Ia ingin kegiatan tersebut menghasilkan langkah nyata untuk meningkatkan tata kelola pendidikan PUI, kompetensi kepala sekolah dan madrasah, serta kualitas layanan pendidikan.
“Pemerintah daerah tentu tidak bisa bekerja sendiri. PUI memiliki jaringan pendidikan yang sangat besar. Mari kita bangun sinergi, kita kuatkan pendidikan, dan bersama-sama mewujudkan Majalengka Langkung Sae,” pungkasnya.
Pada kesempatan tersebut, panitia juga menyerahkan penghargaan kepada senior PUI, kepala sekolah, dan guru PUI yang telah berkontribusi terhadap organisasi dan dunia pendidikan.
