BPBD Bali Gelar Bimtek GIS untuk Perkuat Resiliensi Bencana

DENPASAR, HR — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali bersama Pemerintah Provinsi Bali menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Geographic Information System (GIS) pada 18–20 Mei 2026 sebagai upaya memperkuat ketangguhan daerah menghadapi risiko bencana.

Kegiatan ini melibatkan BPBD kabupaten/kota se-Bali, Forum Penanggulangan Risiko Bencana (FPRB) Bali, LPBI-NU, Yayasan IDEP Selaras Alam, serta perwakilan desa.

BPBD Bali mencatat sepanjang 2025 terjadi 2.644 kejadian bencana, mayoritas hidrometeorologi, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Tren tersebut juga berlanjut pada awal 2026 dengan kerugian materiil mencapai hampir Rp3 miliar.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, Teja Bhusana, mengatakan pemanfaatan GIS sangat penting untuk mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan tepat dalam penanggulangan bencana.

“GIS menyediakan data yang detail dan akurat sehingga sangat krusial dalam pengambilan keputusan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan aparatur daerah dalam menyusun rencana pengurangan risiko bencana, termasuk penentuan jalur evakuasi dan lokasi pengungsian.

Kegiatan ini juga didukung oleh Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) dan Program SIAP SIAGA melalui kemitraan Australia-Indonesia dalam manajemen risiko bencana.

Perwakilan Program SIAP SIAGA, Deswanto Marbun, menegaskan pentingnya penguatan kapasitas GIS untuk membaca risiko secara lebih akurat melalui data spasial.

Menurutnya, hal tersebut menjadi kebutuhan utama dalam mendukung tata kelola kebencanaan yang efektif.

Sementara itu, Harry Mahardika menjelaskan bahwa pemetaan berbasis data terbuka memungkinkan masyarakat ikut berkontribusi dalam pengumpulan data lapangan secara lebih kredibel.

Pelatihan ini juga melibatkan partisipasi masyarakat desa, termasuk dari Kabupaten Gianyar dan Karangasem.

Fasilitator BPBD Karangasem, I Wayan Pika Wiadnya, menekankan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pemetaan partisipatif.

“Masyarakat paling memahami kondisi wilayahnya, sehingga pelibatan mereka sangat penting,” ujarnya.

Melalui Bimtek ini, diharapkan terbangun sinergi antara pemerintah daerah dan komunitas dalam pemanfaatan data geospasial guna memperkuat ketangguhan Bali dalam menghadapi ancaman bencana. dyra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *