SUKABUMI, HR — Pondok Pesantren (Ponpes) Dzikir Al Fath Sukabumi kembali memperluas dakwah Islam ke tingkat internasional. Kali ini, pesantren tersebut mengirim lima dai untuk membina komunitas Muslim di sejumlah wilayah Jepang.
Pimpinan Ponpes Dzikir Al Fath, KH. Fajar Laksana, menjelaskan bahwa kelima dai tersebut akan berangkat pada 13 November 2026. Mereka akan menjalankan misi dakwah selama tiga bulan di sejumlah masjid, antara lain di Kota Ibaraki, Nagoya, dan wilayah lainnya yang membutuhkan tenaga imam serta ustaz.
Program ini berawal dari permintaan komunitas Muslim di Jepang yang telah memiliki masjid, tetapi masih kekurangan imam dan ustaz untuk mengelola kegiatan keagamaan. Menjawab kebutuhan tersebut, Ponpes Dzikir Al Fath menyiapkan tenaga dai untuk memimpin salat, mengisi pengajian, memakmurkan masjid, serta memberikan bimbingan keagamaan kepada masyarakat Muslim setempat.
Sebelum berangkat, para dai mendapatkan pembekalan fikih praktis yang mencakup tata cara ibadah, zakat, infak, makanan halal, pengurusan jenazah, hingga pernikahan. Mereka juga membawa misi menyampaikan ajaran Islam secara inklusif, santun, dan moderat.
Program dakwah internasional ini melibatkan Kementerian Agama, BAZNAS, Kopertais, serta organisasi ISMI. Kerja sama tersebut juga membuka peluang pengakuan akademik melalui konversi satuan kredit semester (SKS) bagi mahasiswa yang mengikuti program magang dakwah selama tiga bulan di Jepang. Dengan demikian, mahasiswa dapat menjalankan misi dakwah sekaligus memenuhi kewajiban akademik.
KH. Fajar Laksana menegaskan bahwa program ini menjadi bagian dari upaya pesantren membangun kemandirian dakwah dan memperluas kontribusi di tingkat internasional.
Melalui kegiatan ini, para dai diharapkan mampu menjadi duta Islam yang membawa pesan rahmatan lil alamin, menjaga kerukunan antar umat beragama, serta memperkuat pembinaan komunitas Muslim di Jepang.
Sebelumnya, Ponpes Dzikir Al Fath juga menjalankan program Dai Garis Depan selama empat tahun di wilayah terpencil, khususnya Pulau Buru, Maluku. Program tersebut mendapat dukungan Kementerian Agama dan BAZNAS serta menjadi salah satu dasar pengembangan pembinaan mualaf melalui Mualaf Center BAZNAS Maluku.
