PWI Pokja Jaksel Ajak Pelajar Ikat Janji Jaga Jakarta Lewat Wawasan Kebangsaan

JAKARTA, HR — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kelompok Kerja (Pokja) Wali Kota Jakarta Selatan menggelar dialog interaktif tentang wawasan kebangsaan, pencegahan tawuran, dan berita hoaks dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026. Kegiatan ini melibatkan pelajar SMA dan SMK se-Jakarta Selatan di Ruang Rapat Antasari, Gedung C, Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026).

Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat nasionalisme, menangkal paham radikalisme, serta membentengi generasi muda dari berbagai pengaruh negatif, termasuk penyalahgunaan narkoba, tawuran pelajar, dan penyebaran berita bohong atau hoaks.

Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, menekankan pentingnya wawasan kebangsaan, pencegahan tawuran, dan edukasi tentang bahaya hoaks untuk membangun bangsa dan negara.

“Sebagai insan pers memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya kita untuk terus mempertahankan agar persatuan dan kesatuan negara ini terus berlanjut. Dialog wawasan kebangsaan ini menjadi penting dengan menghadirkan anak-anak para pelajar kita dari SMA maupun SMK sehingga mereka memahami dengan baik bahwa di tengah era globalisasi dan meningkatnya penggunaan teknologi informasi maka persatuan dan kesatuan itu harus terus kita pupuk bersama,” ujar Syafrin.

Ia juga menegaskan bahwa insan pers memiliki peran strategis dalam menyajikan informasi profesional dan berimbang. Pemberitaan yang bertanggung jawab diharapkan dapat membantu mencegah konflik dan mengurangi potensi tawuran di masyarakat.

Syafrin berharap para guru, pendidik, dan pendamping siswa dapat memperkuat pemahaman wawasan kebangsaan di lingkungan sekolah agar para pelajar mampu menjaga persatuan dan menghargai keberagaman.

Ketua PWI Pokja Wali Kota Jakarta Selatan, Joni Matondang, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral insan pers dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, kontribusi wartawan tidak hanya melalui pemberitaan, tetapi juga melalui kegiatan edukatif yang menyentuh langsung lingkungan sekolah.

Joni menilai penyebaran hoaks dan gangguan keamanan, termasuk tawuran antarpelajar, menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama. Karena itu, PWI Pokja Jakarta Selatan menginisiasi dialog interaktif sebagai sarana untuk memperluas wawasan kebangsaan sekaligus mengajak pelajar berkomitmen menjaga Jakarta tetap aman dan kondusif.

“Kita tidak mesti harus panggul senjata untuk berkarya untuk bangsa. Cukup melakukan hal-hal yang baik, menciptakan prestasi dengan tidak meneruskan informasi hoaks dan bersifat menghasut. Tujuan saya buat acara ini begini untuk stop, itu semua. Mari kita cintai bangsa ini dengan sebaik-baiknya,” ujar Joni.

Perwira Seksi Teritorial (Pasiter) Kodim 0504/Jakarta Selatan, Mayor Inf. Dicson Abislom, turut menekankan pentingnya membangun karakter kebangsaan dan jiwa kepemimpinan sejak dini.

Ia mengatakan, para pelajar perlu mendapat pendampingan dan pengalaman positif agar mampu membedakan perilaku yang baik dan buruk serta tidak mudah terpengaruh lingkungan negatif.

“Memang itu salah satu bagian dari kami, bahkan kita semua supaya anak-anak itu selalu diberikan hal-hal positif dan memberikan pengalaman-pengalaman yang baik dari kita sebagai orang yang lebih senior dari mereka. Karena pergeseran-pergeseran nilai-nilai bagi anak-anak kita ini memang sangat tajam. Jadi perlu kita sampai kepada mereka agar bisa membedakan mana yang baik, mana yang jelek dan harus dihindari oleh para pelajar, mereka kan kadang-kadang ada yang ikut terpengaruh. Di sini kita berikan bagaimana menyikapi pengaruh negatif dengan wawasan kebangsaan ini,” tutur Dicson.

Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan Manusia, Dicky Krishnawardana, mengapresiasi inisiatif PWI Pokja Jakarta Selatan dalam menyelenggarakan dialog interaktif tersebut.

Menurut Dicky, pencegahan tawuran menjadi salah satu perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia menegaskan bahwa tawuran tidak memberikan manfaat positif dan justru berpotensi merugikan pelaku maupun masyarakat di sekitarnya.

“Kami mendukung untuk ke depannya acara seperti ini dikegiatkan lebih banyak lagi. Keuntungan tidak ada. Yang jelas, masa depan mereka yang akan dirugikan. Sesuai dengan arahan Bapak Gubernur, bahwa pelaku tindak tawuran itu akan berdampak pada penerimaan KJP, KJMU dan juga salah satunya kesempatan mereka untuk di masa depan kemungkinan akan tertutup,” terang Dicky.

Ia mengajak para pelajar menjauhi tawuran, membangun perilaku positif, dan berani menolak ajakan melakukan tindakan yang dapat merugikan masa depan mereka.

“Perjuangkan, pikirkan dan kejar masa depan kalian untuk kedepannya. Yang jelas itu,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua PWI Provinsi DKI Jakarta, Kesit Budi Handoyo, memberikan pembekalan mengenai cara mengenali berita hoaks di tengah perkembangan teknologi informasi. Ia menjelaskan bahwa masyarakat perlu mewaspadai judul provokatif, penggunaan bahasa bombastis yang memancing emosi, sumber informasi yang tidak jelas, tata bahasa yang buruk, serta ajakan untuk segera menyebarkan informasi tanpa verifikasi.

Dalam paparannya yang berjudul Hoaks di Tengah Kemajuan Teknologi Informasi, Kesit mencontohkan informasi keliru yang sempat beredar pada Maret 2026 mengenai klaim penutupan sejumlah platform media sosial oleh pemerintah pada 28 Maret 2026.

Ia menjelaskan bahwa informasi tersebut perlu dipahami sesuai konteks aturan yang berlaku. Karena itu, masyarakat harus memeriksa sumber dan isi informasi sebelum mempercayai atau membagikannya kepada orang lain.

“Ini sempat membuat gaduh, oleh karenanya diperlukan bijak bermedia sosial,” terang Kesit.

Kegiatan ini diikuti 200 pelajar yang mewakili sekolah masing-masing se-Jakarta Selatan serta 65 tamu undangan. Penyelenggara melibatkan berbagai pihak, antara lain Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jakarta Selatan, Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Selatan, Bank Jakarta, Baznas (Bazis) Jakarta Selatan, orang tua, guru, dan pihak sekolah.

Melalui dialog interaktif tersebut, penyelenggara berharap para pelajar semakin memahami pentingnya persatuan, mampu menyaring informasi secara kritis, menjauhi tawuran, serta mengembangkan potensi diri melalui prestasi dan kegiatan positif.

Kolaborasi antara insan pers, pemerintah, aparat keamanan, sekolah, keluarga, dan masyarakat diharapkan dapat membentuk generasi muda yang mandiri, kreatif, bertanggung jawab, serta berkontribusi dalam menjaga Jakarta sebagai kota global yang aman dan harmonis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *