JAKARTA, HR – Proyek pemasangan U-Ditch binaan Suku Dinas Sumber Daya Air (Sudin SDA) Kota Administrasi Jakarta Utara menuai sorotan. Pekerjaan yang berlangsung di Jalan Madya Kebantenan, Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, diduga tidak sesuai dengan spesifikasi teknis pekerjaan.
Pantauan Media Harapan Rakyat pada Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 15.11–15.13 WIB, menunjukkan sejumlah pekerja tengah memasang elemen beton U-Ditch ketika dasar saluran masih dipenuhi genangan air dan lumpur.
Kondisi tersebut terlihat dalam dokumentasi timemark yang diterima redaksi. Tidak tampak adanya lantai kerja atau lean concrete yang dipasang terlebih dahulu sebagai dasar pemasangan U-Ditch.
Secara teknis, lantai kerja pada konstruksi saluran berfungsi membantu menciptakan permukaan dasar yang lebih rata dan stabil sebelum elemen beton ditempatkan. Karena itu, kondisi dasar yang masih tergenang dan berlumpur menjadi hal yang patut diklarifikasi kepada pihak pelaksana maupun pengawas pekerjaan.
Selain persoalan teknis, di lokasi pekerjaan juga tidak terlihat papan informasi proyek. Ketiadaan papan proyek membuat masyarakat kesulitan mengetahui informasi penting seperti nama kegiatan, nilai kontrak, perusahaan pelaksana, konsultan pengawas, sumber anggaran, serta jangka waktu pelaksanaan.
Lokasi pekerjaan berada di depan Halte Sbr. Koko Semesta, Jalan Madya Kebantenan, Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara. Dokumentasi lapangan diambil pada Sabtu (5/9/2026) pukul 15.11 WIB dan 15.13 WIB, pada titik koordinat sekitar -6.115107°S, 106.926605°E dan -6.115160°S, 106.926522°E.
Hingga berita ini diturunkan, nama perusahaan pelaksana, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), maupun Konsultan Pengawas belum diketahui secara pasti. Kondisi tersebut terjadi karena tidak adanya papan informasi proyek di lokasi pekerjaan.
Berdasarkan keterangan salah seorang pekerja di lapangan, pekerjaan tetap dilakukan meski air masih mengalir. Pekerja tersebut menyebut kondisi itu terjadi karena, “Air masih ngucur terus,” ucap pekerja dilokasi.

Namun, kondisi tersebut justru menjadi pertanyaan teknis yang perlu dijawab pihak terkait. Jika memang terdapat aliran air pada dasar saluran, perlu dijelaskan metode kerja yang digunakan untuk memastikan pemasangan U-Ditch tetap memenuhi persyaratan teknis dan kualitas konstruksi.
Pemasangan U-Ditch pada dasar yang masih tergenang dan berlumpur berpotensi menimbulkan persoalan apabila daya dukung dan elevasi dasar tidak dipersiapkan dengan baik. Dampaknya dapat berupa penurunan atau perubahan posisi elemen saluran yang pada akhirnya memengaruhi fungsi dan umur layanan konstruksi.
Seorang pakar konstruksi sipil yang dimintai pendapat menilai keberadaan lantai kerja memiliki fungsi penting dalam pekerjaan konstruksi saluran.
“Fungsi lantai kerja itu vital. Kalau langsung di tanah berlumpur dan ada air, daya dukungnya rendah. Enam bulan sampai satu tahun bisa ambles atau miring. Uang negara bisa terbuang percuma,” ujarnya.
Kekhawatiran tersebut semakin penting mengingat pekerjaan yang dibangun merupakan bagian dari sistem drainase. Apabila konstruksi tidak dikerjakan dengan metode dan spesifikasi yang tepat, kerusakan atau pergeseran saluran berpotensi mengganggu fungsi drainase dan menimbulkan persoalan baru saat debit air meningkat.
Ketiadaan papan proyek juga menjadi persoalan tersendiri karena menyangkut keterbukaan informasi kepada masyarakat. Publik berhak mengetahui siapa pelaksana pekerjaan, berapa nilai kontraknya, dari mana sumber anggarannya, serta kapan pekerjaan tersebut harus diselesaikan.
Tidak adanya informasi tersebut sekaligus menyulitkan masyarakat melakukan kontrol sosial terhadap proyek yang menggunakan anggaran pemerintah. Kondisi ini perlu mendapat penjelasan dari Sudin SDA Jakarta Utara agar tidak menimbulkan spekulasi mengenai pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
Redaksi juga telah melayangkan konfirmasi kepada pihak Kasi Pembangunan SDA Jakarta Utara, PM Proyek, dan Konsultan Pengawas pada Sabtu malam. Sejumlah pertanyaan telah disampaikan, antara lain mengenai dasar teknis pelaksanaan pekerjaan tanpa lantai kerja, pihak yang memberikan persetujuan, mekanisme pengawasan, serta alasan papan informasi proyek tidak dipasang.
Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada jawaban resmi dari pihak-pihak tersebut.
Masyarakat Semper Timur pun berharap proyek tersebut mendapat perhatian dan pemeriksaan dari instansi pengawasan terkait. “Kami minta proyek ini dievaluasi. Jangan sampai anggaran habis tapi hasilnya asal-asalan,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Publik kini menunggu penjelasan Sudin SDA Jakarta Utara mengenai metode pelaksanaan pekerjaan tersebut. Jika hasil pemeriksaan nantinya membuktikan adanya pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi atau ketentuan kontrak, masyarakat berharap dilakukan perbaikan sesuai aturan dan tidak terjadi pemborosan anggaran.
Media Harapan Rakyat akan terus mengawal pelaksanaan proyek pemerintah, khususnya yang menggunakan anggaran negara, agar dikerjakan secara transparan, memenuhi spesifikasi teknis, serta memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. •lisbon sihombing
