“Pature Samosir” Mengajak Warga Hasinggaan Ber-agrobisnis dengan Konsep Agrowisata

oleh -760 views

SAMOSIR, HR – Dimotori oleh “Pature Samosir”, dua orang pejabat Kementerian Pertanian Jakarta dan seorang praktisi agrobisnis dari Bogor pada 15 Februari yang lalu melakukan kegiatan tatap muka dengan warga Desa Hasinggaan, Sianjur Mulamula Samosir. Maksud diadakannya acara tatap muka itu adalah mengenalkan konsep agrowisata dan sekaligus mengajak warga untuk ikut sebagai pelakunya.

“Pada dasarnya, yang dimaksud dengan agrowisata adalah bisnis hasil-hasil budidaya pertanian atau pun perkebunan. Cuma dalam konsep agrowisata, para pembeli datang ke tempat dimana hasil-hasil pertanian dan perkebunan itu dihasilkan,” kata Tumpal Simanjorang menggaris bawahi menegnai apa yang dimaksud dengan agrowisata dalam sebagian paparannya, saat acara itu dimulai.

Pendapat ini lalu diamini oleh Ir Asterius Sinaga MM pada sesi gilirannya memberi penjelasan topik yang sama. Malah lebih jauh lagi dikatakan, bahwa dengan adanya agrowisata akan semakin lebih meningkatkan manfaat yang diterima oleh para petani, baik manfaat penambahan penghasilan maupun manfaat dari penghematan waktu.

“Dengan datangnya para pembeli ke tempat para petani, maka petani tidak perlu mengeluarkan biaya angkut dan juga tidak perlu meluangkan waktu untuk membawa hasil pertanian atau perkebunannya ke pasar (onan-Red!),” terang Asterius Sinaga, kedatangannya ke Samosir terkait tindak lanjut pemberian bantuan dari instansinya kepada satu Gapoktan di Parbaba Dolok, Samosir. Pada kunjungannya ke Desa Hasinggaan Samosir ini, ia ditemani rekan sejawatnya Rr Retno Haryani.

Puncak dari acara ini diisi oleh paparan dari Mahezza Pualam Puteh. Setelah sekilas meneceritakan dirinya, dimana dikatakannya bahwa dia adalah seorang cucu dari seorang tokoh Aceh Sepakat yang tahun 1954 datang ke Parapat dengan menggunakan pesawat terbang bersama Presiden pertama RI Soekarno, bahwa kehadirannya ke Desa Hasinggaan adalah untuk bersama-sama menuju kepada kehidupan yang lebih baik.

“Sebagai seorang yang memiliki pengalaman dan berhubungan dengan sumber-sumber permodalan, saya dan tim saya siap membantu bapak-ibu sekalian untuk mewujudkan keinginan tersebut. Termasuk membantu permodalan yang tadi saya dengar bahwa di daerah ini ada lahan terlantar seluas 50 Ha,” ujarnya seraya memperkenalkan dua orang tim konsultan yang mendampinya.

Untuk sekedar diketahui, Maheza Pualam Puteh ini adalah seorang yang dulu ikut mendorong pembangunan Bandar Udara di Sampe Tua Palipi, Samosir.

Walau pun acara ini bertajuk mengenai agrowisata, tetapi rupanya tidak bisa dilepaskan dari soal kritikan terhadap kinerja instansi Dinas Pertanian Samosir. Kristisi itu muncul soal minimnya layanan tenaga PPL.

“Pernah ada bantuan bibit bawang putih ke desa ini. Terhadap bantuan itu, saya lalu bilang agar bantuan itu dipulangkan saja,” ujar Dame Sagala selaku kepala desa mewakili warga.

Bahwa dia mengatakan seperti itu, mengingat pengalaman sebelumnya, dimana pemerintah memberi bantuan, tetapi karena tidak dibarengi dengan tenaga penyuluh, maka tanaman dari bibit bantuan tadi mati di tengah jalan.

“Disamping rugi waktu, penghasilan yang diharapkan pun jadi tidak ada,” lanjutnya. Dan terhadap apa yang dikatakan kepala desa ini, juga dibenarkan oleh perwakilan kelompok tani, seperti “Martumbur” atau “Mantab”, yang pada acara siang itu terlihat sangat antusias mengikuti acara dari awal sampai akhir.

Pada intinya, terkait bantuan-bantuan untk pertanian atau perkebunan dari pihak pemerintah ini, baik kepala desa mau pun perwakilan Kelompok Tani, menuntut agar tenaga PPL berdomisili di Desa Hasinggaan.

Terhadap segala kritikan ini, Marganda P Sitanggang yang hadir mewakili Dinas Pertanian Samosir telah mensikapinya dengan arif dan bijaksana dengan mendengar dan menampung segala keluh-kesah yang disampaikan.

Loading...

“Kami akan mensikapi segala masukan-masukan yang bapak-ibu telah sampaikan pada forum ini. Dan kedepan marilah kita terus saling bersinergi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik,” jawab Marganda Sitanggang. paul j manjo

Tinggalkan Balasan