Ekonomi Masyarakat Tergangggu Akibat Pembangunan Jembatan Tangkuban Perahu

oleh -161 views
BALI, HR – Pembangunan jembatan di jalan Tangkuban Perahu, Kecamatan Denpasar Barat, menuai kritik dari masyarakat, terutama para yang mempunyai usaha di pinggir jalan. Sejak di mulai pengerjaan, yang di kerjakan oleh PT. Citra Exact Engineering. Pekerjaan tak semulus perkiraan warga. Proyek dengan masa pengerjaan 120 Hari Kalender kerja tersebut, sampai saat ini masih jauh dari progress.
Proyek Jembatan Tangkuban Perahu. Inzet: Papan proyek.
Dari pantauan di lapangan, beberapa alat berat hanya nongkrong di lokasi. Tidak ada aktivitas yang berjalan. Hal ini menjadi keluhan warga yang mempunyai usaha. Seperti yang di katakana oleh Pak Nyoman, pengusaha cuci mobil yang sejak di mulai proyek jembatan, mengalami penurunan omset.
“Turun drastis pak, sejak pembangunan di mulai satu bulan lalu, usaha saya jadi macet,anak buah saya istirahatkan dulu, karena sepi,” jelasnya.
Ditambahkan oleh Nyoman, sebelum pembangunan di mulai, rata-rata per hari usaha cuci mobilnya dapat sekitar 30. Tapi semenjak pembangunan di mulai, karena jalan di tutup, omset menurun drastis.
“Sekarang dapat tiga mobil aja sudah bersyukur pak, itu pun setelah saya pasang plang di depan perempatan,” keluhnya. Ditambahkan juga oleh Nyoman, untuk menjalakan usahanya agar tetap bisa berjalan, secara sukarela harus meninggikan jalan, agar mobil bisa masuk ke tempat usahanya.
“Saya tinggikan sendiri pak, itupun saya ngutang dulu semen sama teman,agar mobl bisa masuk ke bengkel saya, kalau tidak saya kerjakan sendiri, dari pihak pelaksana tidak mau perduli dengan kami, malah sekarang mereka (pelaksana-red) selalu menghindar,” terangnya.
Tak hanya Nyoman yang merasakan akibat lambannya pengerjaan yang dilakukan oleh pihak pelaksana. Hal yang sama juga di katakan oleh Susanto, yang tokonya ada persis di depan bengkel cuci mobil milik pak Nyoman.
“Kami hanya di beri janji oleh pihak pelaksana, katanya hari ini (22/9), akan dibuka lagi jalannya, tapi kemaren kami sudah di kasi lagi surat edaran oleh pihak pelaksana, yang isinya minta perpanjangan waktu,” kesal Susanto.
Keluhan juga disampaikan oleh seorang pedagang buah yang usahanya tutup total. Ibu muda yang tidak mau disebutkan namanya, kecewa dengan sikap pelaksana, “Kalau kerjanya kaya gini, kapan akan selesai?” tanya ibu muda yang mengaku usahanya mati suri gara-gara pelaksana yang disinyalir tak becus dalam bekerja, berharap pihak terkait yaitu Dinas PU bisa mencarikan solusi.
Pantuan wartawan HR di lokasi, serta informasi dari masyarakat, kendala utama yang dihadapi oleh pihak pelaksana, yaitu aliran air sungai yang terus mengalir. Tapi hal ini dibantah oleh masyarakat sekitar yang setiap hari ikut memantau pelaksanaanya.
“Kalau alasan mereka karena air sungai yang terus mengalir, mereka kan ahlinya, mereka punya tenaga ahli, bagaimana caranya mengerjakan jembatan,” terang Susatno pada HR di lokasi. ans


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Tinggalkan Balasan