SANGGAU, HR — Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Telabang Nomor 64.785.12 di Desa Sejotang, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, kembali menjadi sorotan. Dalam bulan Januari 2026, SPBU tersebut untuk kedua kalinya diduga menyalurkan solar subsidi tidak sesuai ketentuan harga.

Pantauan di lokasi pada Rabu (28/1/2026) sekitar pukul 16.20 WIB menunjukkan puluhan truk besar terparkir di area SPBU. Para sopir diduga telah mengantre solar sejak pagi hari. Beberapa di antaranya mengaku menunggu sejak pukul 09.00 WIB tanpa kepastian waktu pengisian.
Salah satu karyawan SPBU Telabang menyampaikan bahwa solar belum tersedia karena pasokan dari Depo Pertamina Pontianak belum tiba. Ia menyebut keterbatasan armada mobil tangki sebagai penyebab keterlambatan distribusi BBM.
Saat ditanya terkait tujuan penggunaan solar, pihak SPBU menyatakan hanya menjual BBM kepada pembeli dan tidak mengetahui ke mana solar tersebut akan digunakan. Mereka menegaskan tanggung jawab penggunaan sepenuhnya berada pada pembeli.
Di lokasi yang sama, seorang sopir truk bernama Martin mengaku mengangkut pupuk dari Pontianak menuju Sinaning. Ia mengatakan telah mengantre sejak pagi namun belum mendapatkan kepastian pengisian solar.
Martin juga mengungkap perbedaan harga solar yang ia alami. Menurutnya, pembelian solar dari 0 hingga 50 liter dijual seharga Rp6.800 per liter. Namun, pembelian di atas 51 liter dikenakan harga hingga Rp10.000 per liter.
“Saya butuh sekitar 200 liter. Artinya, 150 liter harus saya bayar Rp10.000 per liter. Harga itu jelas di atas ketentuan,” kata Martin.
Ia berharap kepolisian meningkatkan pengawasan serta melakukan penindakan tegas terhadap SPBU yang diduga melanggar aturan. Martin juga meminta aparat turun langsung saat penjualan solar berlangsung.
Selain itu, Martin mendesak Pertamina melalui pengawas lapangan agar bertindak tegas, termasuk mencabut izin SPBU yang terbukti menjual BBM di atas harga resmi. Ia juga menyoroti persoalan barcode BBM yang disebutnya banyak dikuasai pihak SPBU atas nama desa, namun dinilai tidak tepat sasaran.
Menurut Martin, pengawasan perlu diperkuat dengan pemeriksaan rutin rekaman CCTV SPBU. Ia menduga sejumlah kendaraan tertentu melakukan pengisian BBM secara berulang hampir setiap hari di SPBU yang sama.
Temuan ini memperkuat pemberitaan sebelumnya, di mana menyoroti dugaan persoalan penyaluran solar subsidi di SPBU Telabang pada bulan yang sama. lp








