Terkait RPJMD, Pemkab Samosir Jaring Aspirasi Perantau Se Jabodetabek dan Bandung

oleh -253 views
JAKARTA, HR – Demi mewujudkan visi ‘Terwujudnya Masyarakat Samosir yang Sejahtera, Mandiri dan Berdaya Saing Berbasis pada Pariwisata dan Pertanian’, Pemkab Samosir mengadakan acara Jaring Aspirasi Perantau Samosir Se Jabodetabek dan Bandung, Minggu (19/6), di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta.
(Ki-ka): Cornel Simbolon, Drs Mangihut Sinaga, 
Bupati Samosir Rapidin Simbolon, 
Wabup Juang Sinaga, 
dan Ketua DPRD Samosir 
Rismawati Simarmata.
Jaring Aspirasi itu bertujuan untuk penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Samosir Tahun 2016-2021. Turut hadir diantaranya Bupati Samosir Rapidin Simbolon, Wakil Bupati Samosir Juang Sinaga, Asisten I Pemkab Samosir Drs Mangihut Sinaga, Pengurus Punguan Parsahutaon Harian Boho dan Sekitarnya Se Jabodetabek (PPHB) dengan Ketum Agustus Naibaho, Pengurus Raja Naibaho Se Jabodetabek dengan Ketum Ir Nikolas S Naibaho MBA, Yayasan Raja Lintong Situmorang (YRLS) dengan Ketum Dr Drs Batara Situmorang MBA, Ketua PPTSB Se Dunia Mangihut Sinaga SH MH, Anggota DPR RI Sahat Silaban, Kajati DKI Jakarta Sudung Situmorang, tokoh masyarakat Letjen TNI (Purn) Cornel Simbolon, Ketua DPRD Kab Samosir Rismawati Simarmata, dan lainnya.
pada acara itu, Rapidin Simbolon memaparkan rencana pembangunan Kabupaten Samosir untuk lima tahun ke depan dengan mengutamakan pembangunan sarana prasarana untuk menunjang Pariwisata dan Pertanian.
Ada delapan misi yang diemban Pemkab Samosir untuk memajukan wilayah Kabupaten Samosir, yakni Membangun Sistem Pemerintahan (good govermance), peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemberdayaan masyarakat, pengembangan pariwisata, pengembangan sektor pertanian, meningkatkan pembangunan, memantapkan kondusifitas daerah dan memperluas jaringan kerjasama.
Untuk pariwisata, rencana pembangunan yang akan dikembangkan yakni museum huta bolon, pantai Sibolazy, batu kursi persidangan Siallagan, kawasan Tuk-tuk Siadong, pantai pasir putih Situngkir, air terjun Hadabuan Naisogop, kawasan Lagundi Sitamiang, air terjun Sampuran Efrata, menara pandang Tele, Batu Hobon, perkampungan Sugullati, Batu Sawan, permandian Aek Sipitu Dai, pemandian air panas di Aek Rangat dan pantai pasir putih Parbaba.
untuk menopang itu semua, sangat diperlukan anggaran yang tidak kecil, dan Pemkab Samosir pun bertekad akan mengembangkan kawasan wisata itu agar dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Terkait itu, Bupati Samosir memaparkan rencana pembangunan yang diyakini berpotensi mampu menarik wisatawan yakni pembangunan Wisma Maduma (Tuktuk View Inn), pembangunan Sigale-gale Tower, Perkampungan Batak di Sugullati, Cable Car, dan pembangunan Balai Benih Ikan Techno Park Samosir (kerjasama dengan LIPI).
Bupati menjelaskan, pembangunan cable car diprediksi akan menyedot PAD dalam jumlah besar, karena dengan adanya cable car, wisatawan dapat melihat langsung dari udara seluruh daerah Kabupaten Samosir dan Danau Toba. Demikian juga dengan pembangunan Sigale-gale Tower, Bupati menyakini akan menyedot wisatawan domestik maupun mancanegara. Dijelaskan Bupati, bila disetujui, Sigale-gale Tower akan menjadi ikon Kabupaten Samosir, bahkan ikon tersebut akan berfungsi mirip Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, karena wisatawan dapat memandang seluruh wilayah Kabupaten Samosir dari tempat tertinggi menara tersebut.
Selain itu, Bupati Samosir menghimbau kepada warga Perantau Kabupaten Samosir dan Bandung untuk saling bekerjasama, terutama infrastruktur sosial untuk mendukung kepariwisataan. Bupati menjelaskan, bahwa yang dimaksud infrastruktur sosial adalah karekter warga Samosir yang susah senyum agar dapat diubah menjadi mudah senyum dan mudah sapa, agar tercipta rasa nyaman bagi wisatawan.
Ketum PPHB Se Jabodetabek dan Sekitarnya, Agustus Naibaho, menjelaskan, bahwa saat ini kondisi alam di Samosir khususnya di Kecamatan Harian sudah tidak seperti dahulu lagi, akibat gersangnya hutan dan penebangan pohon yang seharusnya tidak dilakukan.
Dikatakan putra daerah kelahiran Harian Boho ini bahwa hutan dan perbukitan di sekitar tanah kelahirannya harus dihijaukan kembali seperti sediakala agar warga Harian Boho dan sekitarnya dapat bertani tanpa harus terancam kekurangan air irigasi.
“Mata pencaharian warga Harian Boho dan sekitarnya adalah bertani, mereka saat ini sangat kesulitan air irigasi, karena bagian perbukitan dan hutan di sekitar wilayah ini telah gersang akibat penebangan pohon, baik ilegal maupun legal. Kami berharap Pemkab Samosir kritis menyikapi hal ini,” tegasnya. kornel

Tinggalkan Balasan