Sulit Dapat Pupuk Subsidi dan Kurang Penyuluhan Usaha Tak Berkembang, Petani Natuna Mulai Loyo

oleh -183 views
NATUNA, HR – Pembangunan ekonomi sektor pertanian dimaksudkan untuk meningkatkan produksi pertanian sehingga pendapatan petani yang sebagian besar ada di pedesaan dapat meningkat. Pemerintah pusat dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi Dodo juga telah merumuskan program swasembada pangan agar kebutuhan pangan indonesia dapat terpenuhi secara mandiri.
Hanya saja, dengan luas wilayah Republik Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau menjadikan program tersebut belum sepenuhnya dapat dirasakan oleh seluruh daerah, misalnya saja Kabupaten Natuna yang berada di Provinsi Kepulauan Riau.
Wilayah yang terletak di ujung utara Indonesia terkenal akan hasil alamnya berupa minyak dan gas bumi. Namun siapa sangka, Natuna juga memiliki sektor pertanian dan perkebunan yang jika diolah dengan mumpuni dapat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri untuk masyarakatnya.
Akan tetapi, sulitnya mendapatkan pupuk subsidi menjadi salah satu kendala para petani di Natuna tidak berani menanam lebih banyak. Ditambah lagi petani juga terkadang di buat “ menangis” karena harga hasil pertanian turun drastis dari pasarannya, harga cabai merah misalnya, di Kota Ranai hanya dibandrol Rp .25.000 per kilogram nya.
Seorang petani cabai Wawan dari Desa Harapan Jaya mengatakan, terkadang hasil panen hanya kembali pada modal bibit dan pupuk saja, selain itu terkadang tidak seluruhnya laku terjual di Natuna, sehingga harus di lempar ke daerah lain.
Meski keluhan petani terkait pupuk subsidi yang langka, telah sampai di telinga Bupati Natuna H.Ilyas Sabli. Dan Bupati juga telah mengucapkan sangat menyayangkan tindakan dinas terkait yang tidak segera menanggapi masalah pupuk subsidi tersebut. “Jika dinas terkait beralasan karena minimnya anggaran itu tidak wajar. Setiap dinas teknis harus memiliki program prioritas, jika pupuk subsidi ini dianggap penting, seharusnya dinas pertanian bisa memprioritaskannya,”ujar Ilyas kepada wartawan beberapa waktu lalu. Akan tetapi tetap saja pupuk subsidi masi langka.
Sementara itu diwaktu berbeda, Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian, Ahmad Lianda kepada HR di ruang kerjanya beralasan masih kurangnya tenaga profesional penyuluh di Natuna menjadi salah satu kendala sehingga potensi pertanian belum dapat digarap dengan maksimal. “Penyuluh pertanian itu sifatnya urgent atau mendesak, minimal ada di setiap kecamatan, sehingga petani yang kesulitan mengembangkan pertaniannya dapat langsung bertanya ke penyuluh. Mulai dari teknologi budidaya, pengolahan air, pemberian pupuk, penyakit tanaman dan lainnya,” sebutnya. ■ fian

Tinggalkan Balasan