Kelompok Swadaya Masyarakat Manfaatkan Plastik Bekas

oleh -321 views
OKI, HR– Kelompok masyarakat kreatif dengan pemanfaatan barang bekas ada di Kecamatan Kota Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Meski baru bisa mengolah satu jenis bahan bekas, namun kegiatan yang dilakukan Kelompok Swadaya Masyarakat dengan kegiatan 3 R, yaitu Reduce, Reuse, Receyle ini, terbilang suatu terobosan yang bermanfaat. Akan tetapi tidak adanya kepedulian instansi terkait, menyebabkan usaha rakyat ini terseok-seok.
Melakukan kegiatan yang memanfatkan plastik bekas kemasan air mineral ini di ketuai oleh Supriyadi dibantu 6 orang lainnya. Adapun kegiatan ini dilakukan mulai dari pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore.
Memperoduksi barang bekas ini sudah di tekuni Supriyadi sejak tahun 2012 yang lalu,adapun barang yang di daur ulang oleh kelompok ini baru hanya sebatas kemasan air mineral. “Untuk yang lain seperti plastik bekas alat rumah tangga kami di sini belum bisa mendaurnya, karena alat yang di punya oleh kelompok kami hanya satu dan baru bisa menggiling plastik kemasan minuman untuk yang lain kami kirim langsung ke Provinsi Lampung,” ungkap Supriyadi.
Banyak kendala yang di hadapi oleh kelompok ini seperti kurangnya mesin pengiling dan pelatihan. “Kami mengharap ada pelatihan dari pihak pihak terkait karena dulu kami pernah di latih oleh orang dari Jakarta tapi sekarang tidak ada lagi. Disini kami berhasil menggiling sebanyak 3 kuintal dalam sehari dan penyusutannya sendiri kalau yang super itu hanya sepuluh persen sedangkan yang nomor dua itu bisa menyusut antar tiga puluh hinggah empat puluh persen. Untuk harga jual sendiri kalau yang super itu harga bisa mencapai Rp 18 samapi Rp 20 ribu sedangkan yang nomor dua harga jual hanya berkisar Rp 6 samapi Rp 8500 perkilo,” terang Supriyadi.
Perbedaan yang super itu kemasan yang sudah di bersihkan sebelum di masukkan ke mesin penggiling sedangkan yang nomor dua itu kita giling tanpa di bersihkan terlebih dahulu. Sekarang kami sudah lama memperoduksi tapi tidak melakukan penjualan karena biaya produksi lebih tinggi dari harga jual harga yang tidak setimpal ini. Jadi kami kumpulkan dahulu nanti kalau harga sudah normal kami baru mau menjual, imbuh ketua Kelompok Swadaya Masyarakat. ■ adellia

Tinggalkan Balasan