Adharsya : Perlu Pendekatan BKR Tingkatkan Partisipasi Pendidikan

oleh -284 views
BENGKULU, HR – Dari data yang diperoleh, bahwa Angka Partisipasi Murni (APM) sekolah di daerah Bengkulu untuk Sekolah Dasar (SD) yang tinggi membuat penyelenggara pemerintah setempat cukup puas terhadap kondisi tersebut.
Sebabnya, untuk partisipasi murni tingkat sekolah dasar terhadap kelompok usia 7-12 tahun terbilang tinggi yang mencapai 97,30 persen, angka tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh anak usia sekolah dasar di daerah itu telah menikmati pendidikan. Beberapa lembaga survey juga merilis anak seusia itu yang pernah sekolah sebesar 98,26 persen, dan tidak pernah sekolah 1,74 persen.
Akan tetapi, amat disayangkan APM untuk pendidikan lanjutan SMP dan SMA menyusut jauh, hanya mencapai 40 persen. Artinya menunjukkan sebanyak itu pula remaja usia sekolah tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP dan SMA. Berdasarkan Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) 2013, angka partisipasi murni kelompok usia 13-15 tahun hanya sebesar 72,44 persen, dan untuk APM usia 16-18 tahun sebesar 59,62 persen. Melihat data tersebut, anak di daerah itu tidak melanjutkan sekolah dengan berbagai alasan, salah satu alasan tidak ada biaya, dan tingginya biaya sekolah didaerah itu.
Menurut Kepala Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KS-PK) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Bengkulu Adharsya, upaya meningkatkan minat dan partisipasi sekolah di daerah itu perlu pengembangan dan pendekatan melalui program kelompok kegiatan Bina Keluarga Remaja (BKR). “Sangat diperlukan pengembangan lembaga pendidikan non formal, yakni Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R), baik disekolah maupun di lingkungan sosial masyarakat, serta sosialisasi program pendewasaan usia perkawinan melalui kelompok kegiatan lainnya, hingga pada kelompok unit Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS), sehingga orang tua dapat menilai pentingnya pendidikan dalam pembangunan keluarga dan kependudukan,”jelasnya kepada wartawan belum lama ini.
Ia menambahkan, dampak dari putus sekolah bagi remaja akan mengarah pada kasus pernikahan usia muda, kematian ibu melahirkan dan bayi dibawah satu tahun
Adharsya mennyebutkan, hingga awal 2015 jumlah PIK-R di Bengkulu terus bertambah sesuai data pada 2014, jumlah PIK sebanyak 350 kelompok, yang terbagi tiga tahapan. PIK-R tahap tumbuh sebanyak 250, tahap tegak 75 dan tahap tegar 25 kelompok. ■ jlg

Tinggalkan Balasan