Sudirman Kadir: Rekayasa Sosial Budaya Sengsarakan Rakyat

oleh -222 views
JAKARTA, HR – Kedaulatan itu adalah di tangan Rakyat, dan oleh sebab itu segala bentuk dan manifestasi pertuanan harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Hal dikatakan Sudirman Kadir kepada HR, Senin (29/8/2016) di kantornya di kawasan Prapanca, Jakarta Selatan.
Sudirman Kadir
“Namun, sayangnya rakyat Indonesia dipersepsi sebagai sosok pribadi yang bersahaja, manut, nurut, menerima perlakukan apapun dari para elitenya.Tetapi apakah rakyat Indonesia mampu memahami penjelasan elitenya?,” tanya Ketua Majelis Pendiri Pusat Partai Pakar.
Kendati demikian,lanjutnya,tampak ada persamaannya. secara ekonomi dipersatukan di dalam sistem ekonomi yang diberlakukan oleh Negara dan Swasta, bukan sistem yang dipilih oleh rakyat sendiri. Sistem ekonomi yang diberlakukan itu meniatkan keuntungan pribadi,menurut Sudirman adala bentuk efisiensi dalam etos kerja dan budaya kapitalis yang bertentangan dengan budaya gotong royong.
Dan jika secara sosial dan budaya kelihata rakyat dan elitenya menyatu,padahal bukan bersatu. “Itu tampaknya. Padahal sesungguhnya ada jurang pemisah yang sangat lebar, sangat jauh dan hampir-hampir tak terjangkau. Semuanya dikarenakan oleh ruang kehidupannya sama, zamanya sama, era dan abadnya sama, waktuya pun sama,” ungkapnya.
Jika para ahli sosial barat dan juga Indonesia yang menyatakan bahwa secara sosial dan secara budaya masyarakat bisa direkayasa. Fan ada teori sosial yang menyatakan mampu merekayasa perubahan masyarakat tradisi menjadi masyarakat modern. Sudirman tidak sependapat,karena ia menilai rekayasa sosial-budaya yang buruk, tak bertanggung jawab dan berdampak semakin menyengsarakan rakyat adalah dengan mengubah lingkungan fisik mereka, mengubah sawah dan hamparan kebun mereka menjadi pabrik-pabrik, menjadi industri tenun dan kain, menjadi industri cat dan perabotan, dan industri mesin dan lainnya. Artinya mengubah lingkungan fisik mereka, secara perlahan akan mengubah kebiasaan mereka, dan lama kelamaan akan mengubah cara pandang mereka terhadap kebendaan.
“Inilah bentuk rekayasa sosial-budaya yang berdampak buruk, sehingga sebuah keluarga harus menjual anak gadisnya ke kota untuk mengisi hasrat kebutuhan kota. Kalau demikian halnya perubahan yang terjadi, maka kehidupan sosial yang dihasilkan bukannya masyarakat modern, melainkan sebuah kumpulan rakyat trandisional hedonis,”tandasnya.
Lebih lanjut Sudirman memaparkan,bahwa Indonesia sudah puluhan tahun mengalami hal ini, sudah berganti dua generasi, sudah tenggelam dalam hiruk pikuknya perubahan pemukiman kampung menjadi perkotaan. Siapa korban-korbannya? Tak lain adalah si Marhaen. Dari mengolah sawah ladang yang kian hari kian sempit, dari melaut menangkap ikan yang tak seberapa hasilnya, menjadi mengolah nasib bermodalkan tubuh dalam pusaran kota-kota imajiner.
“Inikah yang disebut dengan kehidupan modern bagi rakyat. Inikah yang disebut kemajuan, perkembangan dan pembangunan. Inilah yang disebut modernisasi. Inilah yang disebut kemajuanbinilah yang disebut pembangunan. Benarkah demikian?” ucapnya.
Oleh karena terpikirkan olehnya membentuk Partai Pakar (Partai Kerja Rakyat Indonesia) untuk menyadari setiap lembar kehidupan rakyat yang seperti ini. 
“Seandainya Bung Karno masih ada, masih ada ditengah-tengah kita para Pendiri PAKAR INDONESIA, beliau pun akan bertanya kepada kita. Untuk tujuan apakah kalian putra dan putri Indonesia mendirikan Pakar Indonesia? Bila tujuannya hanya menambah sampah partai Plpolitik, lebih baik hari ini membubarkan diri !” terang Sudirman.
Kita wajib dan harus berubah!!! Mengubah wajah dan hati Indonesia, mengubah etos kerja dan budaya hedonis kota, dan mengubah Pedesaan Indonesia menjadi lumbung padi nasional,” imbuhnya.
Kita wajib dan harus berubah!!! Mengubah wajah dan hati Indonesia.
Oleh karena itu, yang terlebih dahulu kita rombak,jebol dan direvolusi adalah kesadaran diri sendiri. Karena tanpa dari dalam diri sendiri terlebih dahulu,maka tidak akan bisa berubah.
Sudirman lebih jahu mengutarakan bahwa gotong royong adalah budaya Indonesia yang sudah lama hilang dari kenyataan hidup sehari-hari. Ia menilai gotong royong hanya ada dalam kamus, hanya ada dalam slogan, dan hanya ada didalam busa kata-kata.
Gotong Royong pernah ada di Indonesia adalah gotong royong gotong royong dalam menjalankan adat istiadat tradisi masyarakat yang masih berlangsung di Indonesia,seperti gotong royong dalam mempersiapkan pesta adat budaya. Namun gotong royong politik dan ekonomi sudah lama sirna dari bumi Nusantara ini.
“Padahal yang kita sepakati itu adalah gotong Royong bukan semata dalam budaya, melainkan juga dalam lapangan politik dan ekonomi,”ulasnya.
Sudirman mengaku semangat dan nilai gotong royong dalam politik telah dilaksanakan dan akan terus dilakukan oleh partai yang digagasnya yaitu Pakar Indonesia.
“Gotong royong berjalan dan bekerja sudah menjadi trandisi baru dan InsyaAllah, akan menjadi keyakinan dan tetap bergelora,”sebutnya.
Ia menontohkan bentuk gotong royong dalam lapangan ekonomi dengan membentuk koperasi. Tentu saja bukan Koperasi simpan-pinjam, karena koperasi ini sekadar mengajari mentalitas konsumtif belaka, dan bukannya produktifitas. Gotong royong yang dibutuhkan yang memicu produktifitas rakyat. Karena dengan berproduksi inilah,menurut Sudirman ada kesempatan memperbaiki hidup, melengkapi hidup dan meninggikan harkat dan martabat rakyat Indonesia.
Hal lainya,Sudirman menjelas,keinginannya mendirikan parpol yang tidak ingin menciptakan god mather atau god father. Tapi lebih mengedepankan
sifat nasionalistis humanis-religius. Karena baginya musyawarah mufakat itu adalah fondasi demokrasi politik Indonesia. Dan wajib dijunjung dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. amigo


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Tinggalkan Balasan