Rehabilitasi DI Manganti BBWS Citanduy Kurang Pengawasan

Foto proyek BBWS Citanduy TA 2017 terlihat asal-asalan.

JAKARTA, HR – Hasil pengerjaan proyek paket pekerjaan jaringan irigasi (DI Manganti SI Cihaur) paket 1 dan paket 2 (DI Manganti SI Cidareja) Kabupaten Cilacap, di ujung perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, dinilai kurang pengawasan.

Proyek yang mengerjakan pembangunan Bendung Manganti di Daerah Induk Irigasi (DI) Saluran Induk (SI) Saluran Sekunder Sidareja – Cihaur, sangat diharapkan dapat berfungsi untuk peningkatan irigasi khususnya di Jawa Tengah.

Proyek yang dikendalikan oleh SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air Citanduy Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy tersebut merupakan pembangunan infrastruktur, sehingga diperlukan saluran-saluran sekunder tersiar, dimana Bendung Manganti menjadi bagian siklus irigasi Bendung Manganti yang akan mengairi wilayah saluran sekundernya.

Surat Kabar Harapan Rakyat dan harapanrakyatonline.com mendapat data dan informasi telah terjadi pengumuman lelang dengan nilai paket proyek yang sangat besar Rp 36.153.564.000, sumber dana APBN Tahun Anggaran 2017 yang dimenangkan PT Bina Cipta Utama untuk Paket 2 (SI Sidareja).

Dan untuk paket pekerjaan D.I Manganti (SI Cihaur) (Paket 1) senilai Rp 35.990.687.000, yang dimenangkan PT Inti Jawa Teknik. Pada tender di dua lokasi itu, hanya bisa diikuti oleh perusahaan-perusahaan tertentu.

Diindikasikan telah terjadi persengkongkolan, bahkan mulai dari perencanaan proyek tersebut. Hal ini tercium adanya dugaan kecurangan dalam proses lelang, sehingga merugikan keuangan negara.

Berdasarkan investigasi tim HR dilapangan serta pengakuan beberapa sumber yang sangat dipercaya, tim melihat adanya perbedaan antara pelaksanaan dilapangan dengan spesifikasi teknis, dan di Daftar Kuantitas dan Harga. Tim menemukan adanya hasil pekerjaan asal-asalan, seperti jalan inspeksi DI SI Cihaur dan Cidareja yang baru dicor, kini sudah retak.

Begitu juga dengan pasangan dinding saluran hanya pasangan motul dan tidak ada perapihan dan pembersihan. Cara kerjanya terlihat eksavator menyusun atau menempelkan pabrikasi di atas dinding pasangan batu lama.

Terlihat ada pasangan besi were mash dibiarkan begitu saja sebelum dicor, sehingga terkontaminasi dengan zat-zat dan kotoran air menjadi karatan. Ini dapat berefek kurang baik terhadap mutu proyek tersebut.

Pada sebagian lokasi saluran sekunder, pekerjaan galian tanah diduga ada pengurangan volume, sehingga diduga dapat mengurangi mutu kualitas dan tidak akan lama bertahan.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Irjen SDA Kementerian PUPR diharapkan segera turun tangan dan melakukan investigasi untuk audit hasil pekerjaan proyek raksasa DI Manganti SI Cihaur) paket 1 dan paket 2 (DI Manganti SI Cidareja).

Loading...

Sementara itu, pihak BBWS Citanduy ketika dikonfirmasi sejak dua minggu lalu hingga kini, serta telah bersurat konfirmasi, tidak juga memberikan jawabannya. m aritonang

Tinggalkan Balasan