‘Pature Samosir’ Mengawal BODT

oleh -283 views
BANDUNG, HR – Sebuah wadah para perantau Samosir bernama “Pature Samosir”, belakangan ini aktif dan intens melakukan berbagai diskusi terkait Bonapasogit Samosir. Keintensan itu semakin meningkat manakala setelah pemerintah membentuk satu badan khusus yang mengelola percepatan pembangunan Kawasan Danau Toba.
Tim Pature Samosir bersama Rudy Pesik.
Bertempat di gerai “Kopi Kamu” Jl. Taman Sari 66 Bandung, Rabu (15/6), kembali melakukan pertemuannya. Pertemuan kali ini adalah dengan topik menonton dan mendiskusikan sebuah video yang sengaja dibuat oleh Rudy Pesik dalam kaitan upaya mempercepat kemajuan Samosir dan Kawasan Danau Toba.
Perlu diketahui, video yang dibuat Rudy Pesik yang bernama “Revitalisasi Samosir & Toba menuju Destinasi Utama” ini, dibuat sebelum adanya pembuatan Badan Otorita Danau Toba (BODT).
“Video yang kita akan tonton nanti, telah dibuat oleh Rudy Pesik sebelum dicetuskannya BODT”, ujar Tumpal Simanjorang, selaku penggagas acara malam itu dalam kata pengantarnya sebelum dimulainya acara nonton.
“Video ini dibuat Rudy Pesik, tidak lama setelah beliau kita bawa ke Samosir Februari 2013,” lanjut Tumpal seraya menguraikan kronologisnya.
Bandara Pemutus Isolasi
Lebih lanjut dijelaskan oleh Tumpal, bahwa selepas kunjungan ke Samosir itu, Rudy Pesik mengundang rekan-rekan Somosirnya ke kediamannya di sebuah kawasan pemukiman elit di Jakarta Selatan.
“Kita harus membangun bandara di Samosir untuk memutus keterisolasiannya. Tanpa akses yang memadai seperti bandara, keindahan Samosir tidak punya arti,” ujar Rudy Pesik mengisahkan awal mula keinginannya membangun Samosir.
Selanjutnya, setelah pertemuan tersebut, Rudy Pesik juga mengajak rekan-rekan Samosirnya untuk bertemu dengan pihak Kementerian Perhubungan. Keinginan Rudy Pesik dan rekan-rekan Samosirnya, yang waktu itu bernama “We Care Samosir (WCS)”, mendapat respon baik dari pihak Kementerian Perhubungan.
“Sepanjang tidak memberatkan keuangan pemerintah, kami siap mendukung dan memfasilitasi keingian Pak Rudy dan rekan-rekan sekalian,” ujar pihak Kementerian Perhubungan waktu itu.
Sayang, dalam perkembangannya, ide pembuatan bandara ini seperti tidak ada kabar lanjutan. Apalagi setelah hiruk-pikuknya kehadiran BODT, ide ini semakin tidak jelas.
Perampokan Ide
Namun dalam pertemuan di “Kopi Kamu”, sebelum acara dilakukan, Rudy Pesik tidak dapat menyembunyikan kedongkolannya atas beredarnya video yang dibuatnya menjadi bagian satu video promosi pihak tertentu. Ketika soal itu diklarifikasi soal izinnya, Rudy Pesik mengatakan tidak pernah memberi izin.
“Saya tidak pernah memberikan izin atas hal itu,” jawabnya ketika ditanyakan soal beredarnya video itu.
Seraya menyebutkan beberapa kasus yang pernah digagasnya, diakui sebagai milik yang meneruskan gagasannya itu, memang Rudy Pesik awalnya seperti tidak perduli. Tetapi khusus untuk pengambilan bagian video yang dibuatnya, dia terlihat tidak bisa menyembunyikan kedongkolan hatinya.
“Ide saya dibajak,” ujarnya memprotes tentang hal itu, seraya menyayangkan sikap pihak yang telah mengambil bagian videonya.
Jangan Mencabut Akar-budaya
Soal sikap perilaku masyarakat di wilayah mana BODT ini dibuat adalah salah satu yang menjadi fokus bahasan peserta diskusi malam itu. Mangadar Situmorang, PhD, yang diminta tanggapannya setelah selesai acara pemutaran video, mengapresiasi sikap Rudy Pesik, yang telah mau mencurahkan waktu dan pemikirannya untuk memajukan Samosir.
“Apa yang dilakukan oleh Pak Rudy Pesik, saya kira telah melebihi dari yang dilakukan oleh orang Samosir sendiri,” tukas Rektor Universitas Katolik Parahyangan Bandung ini.
Namun demikian, sesempurna apa pun program kegiatan yang akan dibuat di Kawasan Danau Toba, janganlah sampai memcabut akar budaya masyarakat yang ada. Tanpa mau menafikan realitas sosial dari adanya dampak dari setiap kebijakan, lanjutnya menerangkan, namun secara moral harus ada kekuatan yang bisa mengontrol hal ini dengan berbagai bentuk kegiatan. “Rasanya kurang pas kalau seseorang secara kultur lebih pas mengerjakan bidang pertanian, tetapi demi alasan prestise, harus menjadi pelayan di sebuat hotel berbintang,” ujar Mangadar memberi ilustrasi.
Hal inilah yang mulai terjadi di Samosir, sebagaimana yang dilihat oleh Fernando Sitanggang, dimana dengan munculnya usaha-usaha pertambangan yang tidak lagi memperhatikan keseimbangan alam sebagaimana dulunya dijaga leluhur orang Batak.
“Demi untuk menghasilkan uang secara instan, masyarakat Samosir sudah meninggalan budaya pertanian, yang uangnya hanya dapat beberapa waktu demikian.”
Di sisi lain, Dr Happy Marpaung melihat soal budaya ini menjadi nilai plus yang harusnya bisa dikemas menjadi satu kekuatan dalam konteks pembangunan industri parwisata Kawasan Danau Toba.
“Saya tidak habis pikir kalau masyarakat Danau Toba harus ‘dikemas’ berperilaku seperti orang Sunda misalnya, demi alasan hospitality,” ujar bere par-Nainggolan yang sehari-hari menjadi dosen Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Parwisata Bandung.
Mengakomodir semua pendapat yang ada, adalah satu tugas mulia “Pature Samosir”, untuk memformulasikannya dalam satu aksi kegiatan yang pas sehingga dapat bermuara kepada kemaslahatan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai yang ada. Tanpa itu, maka besaran anggaran Rp 21 triliun untuk BODT sebagaimana yang dikatakan oleh Prof Dr. Robert Saragih Turnip (putra Panangkongan, Kecamatan Pangururan, Samosir-Red) pada malam itu boleh dikatakan sebagai satu anggaran yang membawa masyarakat Kawasan Danau Toba ‘lepas’ dari kultur budayanya. Semoga tidak demikian. tim

Tinggalkan Balasan