Laju Erosi dan Sedimentasi Turun Dampak Positif Rehabilitasi Hutan dan Lahan

oleh -473 views
oleh

BENGKULU, HR – Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disebut DAS adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai ekosistem alami menjadi tempat berlangsungnya proses-proses biofisik.

Hidrologis di dalamnya, dimana proses-proses tersebut merupakan bagian dari suatu daur/siklus hidrologi. Interaksi alam dari vegetasi, tanah, dan air (hujan) disertai dengan intervensi manusia melalui pengunaan teknologi membentuk berbagai karakteristik pengunaan lahan hutan maupun non hutan, seperti pertanian, perkebunan, pemukiman, perikanan, tambang, dan sebagainya. Setiap pengunaan lahan tersebut memilki kemampuan yang berbeda-beda dalam memberikan tangapan terhadap air hujan yang jatuh di atasnya sehingga menghasilkan keragaman hasil luarannya (output) yang bersifat off-site berupa aliran air sungai (limpasan), sedimen terangkut, banjir, dan kekeringan dan on-site berupa produktivitas lahan, erosi, dan tanah longsor.

Balai Pengelolaan daerah Aliran Sungai Ketahun yang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Provinsi Bengkulu, yang mempunyai tugas melaksanakan penyusunan rencana dan evaluasi pengelolaan daerah aliran sungai 101 (seratus satu) DAS di wilayah kerja Provinsi Bengkulu dan sekitarnya, telah melakukan Upaya pengelolaan dan pemulihan kesehatan DAS melalui pendekatan teknik vegetatif Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dan pendekatan sipil teknis/teknik konservasi tanah pembuatan Dam Penahan (DPn) dan Pengendali Erosi (Gully Plug) pada daerah hulu DAS guna mengurangi laju erosi dan sedimentasi yang mengakibatkan pendangkalan Sungai.

Monitoring sedimen sangat penting untuk mengetahui apakah tujuan pengelolaan DAS telah tercapai melalui kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan yang telah dilakukan dan selanjutnya dapat digunakan sebagai umpan balik perbaikan perencanaan pengelolaan DAS ke depan.

Pelaksanaan rehabilitasi hutan dan lahan pada Lokasi DAS Luas yang mencakup Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu dan Kabupaten OKU Selatan Provinsi Sumatera Selatan yang telah dilaksanakan oleh BPDAS Ketahun tahun 2019-2021 secara rutin tetap dilakukan evaluasi kinerja pengelolaan.

DAS melalui monitoring sedimen yang merupakan gambaran kondisi daya dukung DAS terkait kondisi hidrologi DAS untuk tujuan evaluasi kinerja pengelolaan DAS.

Trend perubahan nilai muatan sedimen yang diamati secara rutin oleh BPDAS Ketahun dari tahun 2019-2024menunjukkan nilai erosi dan muatan sedimen yang semakin menurun tiap tahunnya sampai dengan tahun 2024.

Penurunan nilai sedimen erat berkaitan dengan kegiatan RHL vegetatif yang telah dilaksanakan pada hulu DAS Luas sehingga mulai berdampak terhadap kondisi tata air sungai pada DTA DAS tersebut, selanjutnyakhususnya pada kualitas aliran sungai juga akan terpengaruh erat dengan kondisi vegetasi penutupan lahan atau tata guna lahan, sehingga kedepan tetap perlu usaha multipihak untuk berkomitmen menjaga kelestarian kawasan hutan dan tata guna lahan agarsemakin membaik dari tahun ke tahun.efendi silalahi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *