Kebun PT CKS Dipanen Massal Petaninya, Aparat Nihil Ada Apa ???

Acara Ritual sebelum laksanakan panen.

SINTANG, HR – Ratusan petani plasma kebun kelapa sawit PT Citra Kalbar Sarana (CKS) di kecamatan Sepauk kabupaten Sintang Kalimantan Barat (5/4/2021) deklarasikan aksi panen massal di Desa Sirang Setambang lengkap protokol Covid 19.

Desa Sirang Setambang adalah satu divisi dari 11 desa areal PT CKS di kecamatan Sepauk, aksi panen di awali dengan orasi dan ritual adat setempat.

Bahkan, rencananya, panen massal efektif akan dilakukan secara serentak di 5 divisi meliputi 11 Desa (6/4/2021).

Deklarasi dan aksi panen massal yang dilakukan petani plasma PT CKS dilokasi pertama divisi Desa Sirang Setambang, hari itu berjalan lancar, aman, sebab tidak ada pengamanan dari pihak aparat berdinas baik TNI/Poliri maupun hansip desa.

Demikian juga dari pihak perusahaan, pemerintah kecamatan, tak terlihat di sana, sementara dari pihak petani dan pendukung aksi, hadir  sejumlah kepala desa, antara lain, Kades Bedayan, Kades Buluh Kuning, Rudi Hapidin, Kades Tawang Sari, Andi, Kades Temawang Muntai, Andi Krismanto, Hartono dan Cili.

Pihak Tim yang menamakan diri penerima mandat 11 Maret (Supersemar) 2021 panen buah sawit PT CKS, Ketua 1. Sukarsa, 2, Heronimus, Sekretaris, Jambak, Bendahara, Amas, dari anggota DPRD Sintang Dapil Sepauk – Tempunak hadir dan berorasi, Jhon Xifli dari Partai Amanat Nasional (PAN), Ketua KUD Cinta Kasih, Agus Fitriyadi.

Sukarsa dan Jhon Xifli saat lonching panen massal.

Kenapa panen massal petani plasma PT CKS terjadi ? menurut sejumlah petani, pendukung aksi, penerima mandat dan anggota DPRD Sintang Jhon Xifli, semuanya sama yakni, dimulai dari pola dan bagi hasil yang rendah diterima petani, kemudian ketidak jelasan lahan kapan diserahkan perusahaan ke petani, tidak jelas. padahal lahan yang diserahkan ke perusahaan bersertifikat/eks transmigrasi.

Berikutnya, seperti dijelaskan Sukarsa, mana kebun plasma mana kebun inti perusahaan juga tidak jelas batasnya, begitu-pun perawatan kebun dan pemupukan petani tidak pernah tahu jelas kapan jadwalnya.

Kemudian masalah jalan produksi, ratusan meter tiap divisi dan ratusan kilometer di 5 divisi, tidak dirawat perusahaan, sehingga ketika panen buah apakah itu buah kebun inti atau plasma banyak ditemukan busuk di tempat, tidak terangkut karena jalan rusak.

Inilah probelum utama yang memicu petani bertindak panen sendiri sebab dampak langsung masalah-masalah diatas, komplit kepada desa, kesejahtraan petani dan harapan lainnya, alias boleh disebut, janji perusahaan dulu kepada petani bohong, jauh/tidak sesuai.

Kami petani, mengenai fakta dan buktinya, tahun 2017-2018 sudah kami sampaikan kepada semua pihak terkait, semisal bukti penghasilan dari lahan petani 1-2 Ha, setiap panen hanya dikisaran ratusan ribu rupiah, bahkan sering puluhan ribu saja, tapi tidak di respon para pihak tersebut.

Sementara petani perusahaan diluar Sepauk, penghasilannya jutaan dan jelas rumusnya, jadi aksi ini juga akibat kecemburuan penghasilan yang minim puluhan tahun yang tidak diperdulikan perusahaan dan para pihak, ungkap Sukarsa lagi.

Dan, karena kami sadari ujung dari investasi kebun PT CKS kurang lebih 16 tahun tidak menampakkan tanda-tanda beri kesejahtraan bagi petani, maka kami adakan aksi ini.

Kami akan panen sendiri seluruh kebun, sambung Sukarsa, seraya menyebut alasan petani tidak tau mana kebun plasma dan mana inti dan, hasil penjualan masing-masing divisi kami serahkan kepada pemilik lahan/petani yang mendukung aksi ini, jelasnya kemudian.

Sukarsa mengungkapkan, segala upaya yang lazim sudah pihaknya upayakan menyampaikan masalah-masalah ke perusahaan, pemerintah termasuk menanyakan MoU ke KUD agar aksi tidak terjadi, namun selalu gagal, Tegasnya.

Sementara itu, Agus, Ketua KUD Cinta Kasih menjelaskan, aksi panen massal kenapa sampai terjadi tidak lain karena komunikasi semua hal yang dialami petani melalui KUD kepada perusahaan, minim respon perusahaan, termasuk Mou Perusahaan – Petani tidak ada di arsib KUD.

Hingga puncaknya tanggal 26 Maret 2021 pertemuan dengan perusahaan yang dihadiri petani, tokoh masyarakat, salah satu keputusannya yakni, penyerahan lahan pada tahun 2023, ditolak massa Supersemar, sebutan aksi 5/4/2021.

Memang lanjut Agus, keputusan rapat ada juga poin perbaikan komunikasi KUD – Perusahaan termasuk soal keterlambatan pembayaran yang sering telat namun itu kaitannya dengan pihak bank, misalnya soal uang recehan.

Kembali ke soal aksi ini ungkap Agus, adalah puncak dari sejumlah masalah antara petani–perusahaan selama puluhan tahun, ibarat api dalam sekam, membesarnya (5/4/2021).

Bahkan Agus mengakui bahwa keberadaan KUD Cinta Kasih yang dipimpinnya sejak 15 Juli 2019 masih banyak petani  menganggab KUD Cinta kasih tamengnya perusahaan.

3 Kades, saat menghadiri panen massal.

Dan agar jangan kecurigaan itu terus melekat dihati petani, maka KUD hadir dan mendukung aksi ini, beber Agus seraya berharap pasca aksi ini ada komunikasi terjadi yang dihadiri, para pihak antara lain, Pemerintah daerah, jajaran KUD, perusahaan, bank dan BPN.

“Jika para pihak ini tidak duduk satu meja/tidak hadir, mungkin saja petani tidak hadir, sikap dan harapan ini kepada para pihak mediasi itu, juga ditegaskan Jambak, Sekretaris aksi,” ujar Agus.

Diwaktu berbeda, Badan Pengawas (BP) KUD Cinta Kasih Helius Bua saat ditemui media ini (6/4) di Sintang memberi komentar mengagetkan soal aksi panen massal pimpinan Sukarsa dan yang di dukungan anggota dewan Jhon Xifli.

Helius menjelaskan, bahwa klaim Sukarsa dan tim Supersemarnya didukung warga/petani 11 desa adalah tidak benar.

Hal itu dapat dibuktikan saat pertemuan (26/3/2021) yang dihadiri petani dan tokoh masyarakat/temenggung, dimana sejumlah poin penting dihasilkan/disepakati termasuk pengembalian lahan tahun 2023 oleh perusahaan, hanya saja ditolak kelompok Supersemar.

Memang sambung Helius, perusahaan tidak memungkiri ada masalah – masalah/hak petani yang belum ditutaskan perusahaan, lalu karena belum tertuntaskan maka adakan aksi panen sendiri, menurut saya kurang baik dan aksi ini mencoreng nama tokoh masyarakat Sepauk, katanya.

Maka saran saya, aksi panen sebaiknya dihentikan sebab masih banyak langkah komunikasi petani – perusahaan yang bisa ditempuh melalui KUD, tokoh masyarakat terutama pemerintah, katanya.

Hingga berita ini diturunkan, Kapolsek Sepauk Iptu. TY. Anang, tidak memberi tanggapan atas aksi warga petani perusahaan tersebut.

Sementara Ketua TP3KD, Wakil bupati Sintang Sudiyanto, informasi yang diterima media ini masih diluar kota Sintang.

Humas PT CKS, S.Manullang dikonfirmasi (6/4) menyebut, menyayangkan sikap Kepolisian Resort terlebih Polsek Sepauk yang tidak hadir dilapangan saat aksi terjadi.

Padahal sambung Manullang, 2/4/2020 pihaknya sudah melaporkan rencana aksi tersebut kepada Polres Sintang.

Loading...

Atas aksi panen petani PT CKS tersebut, pihaknya masih menunggu perintah managemen, apakah mempolisikan para pelaku atau menempuh jalur komunikasi. tim

Tinggalkan Balasan