Jalinsum Dua Jalur Menuai Protes

BUNGO, HR – Proyek pembangunan pelebaran dan pembangunan dua jalur jalan Lintas Sumatera Muara Bungo di protes Warga, khususnya di tengah Kota Muara Bungo persis di persimpangan jalan menuju Hotel Semagi Muara Bungo dan rumah makan Kota Lintas.
Warga meminta kepada pihak pemerintah dan pelaksana proyek untuk tidak menutup median jalan pembatas dua jalur menuju perumahan warga. “Kami minta kebijakan dari pemerintah daerah, intansi terkait dan pelaksana proyek di lapangan untuk tidak menutup akses jalan ke Sungai Pinang persis di simpang Hotel Semagi Muara Bungo. Kalau ditutup dengan median pembatas jalur, maka kami warga Sungai Pinang terpaksa memutar lagi dengan jarak kurang lebih 300 meter. Bila ditutup maka warga yang akan mengadakan hajatan pesta kesulitan, apalagi juga ada Hotel Semagi yang sering dijadikan tempat pertemuan dan wisuda mahasiswa sudah pasti membuat jalan jadi macet,“demikian tuntutan warga, yang dibenarkan oleh tokoh masyarakat Bungo pirdaus.
Salah seorang warga, Pirdaus mengungkapkan, warga bersama pengelolah Hotel Semagi sudah bertemu dengan pihak Dandim, Polres membicarakan hal ini, tapi sangat disayangkan pihak Dinas Perhubungan Bungo belum memberikan respon.
“Mengapa di simpang Hotel Semagi yang ditutup, sedangkan Hotel Bungo Plaza tidak ditutup,”tanyanya.
Menanggapi hal ini, Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Bungo Wahyu mengatakan bahwa di Simpang Hotel Semagi dan Simpang Kota Lintas Muara Bungo sengaja ditutup oleh median pembatas jalur dua Jalinsum. “Benar pak jalan menuju Sungai Pinang Hotel Semagi ditutup oleh median pembatas jalan dua jalur karena daerah tersebut rawan kecelakaan. Alasan itu lah makanya terpaksa ditutup, selama ini sering terjadi kecelakaan di Persimpangan Hotel Semagi tersebut. Ini demi keselamatan dan kenyamanan jalan Lintas Sumatera,“terangnya via telepon, Senin (15/6).
Pembatas jalan dua jalur di depan Simpang Hotel Semagi itu direncanakan titik nolnya dari lampu merah pertama Simpang Kampung Solok sampai ke Simpang Lampu Merah Bambu Kuning, yang diperkirakan sekitar 300 meter,“ imbuhnya.
Ditanya, lantas apakah tidak bisa dirobah lagi perencanaan tersebut ?. “Karena perencanaan awal yang ada dalam gambar bestek seperti itu, rasanya sulit dirobah,“ kilahnya. ■ war

Tinggalkan Balasan