Ilyas Sabli Curhat tentang Prestasi Selama Menjadi Bupati

Ilyas Sabli
NATUNA, HR – Pemilihan kepala daerah serentak pada 9 Desember 2015 mendatang akan menjadi ajang paling berharga bagi masyarakat di daerah yang melaksanakan kegiatan tersebut. Sosok pemimpin dengan tujuan kemajuan daerah dan kesejahteraan tentu menjadi dambaan masyarakat banyak. Misalnya saja di Kabupaten Natuna, Pilkada mendatang ada lima pasang calon dipastikan “duel” sengit guna mendapatkan dukungan dari masyarakat.
Namun, bukan hal mudah untuk mendapatkan dukungan masyarakat, karena hembusan isu miring akan senantiasa menghampiri seluruh pasangan calon tanpa terkecuali. Hal ini juga dirasakan oleh Ilyas Sabli, Bupati Natuna aktif periode 2011-2016 yang kembali maju dalam Pemilukada Natuna.
Saat peresmian Gedung Wanita belum lama ini, Ilyas menyelipkan curhatannya terkait asumsi masyarakat yang merasa pembangunan dimasa kepemimpinan Ilyas bersama Imalko tidak terlalu tampak dimata, alias jalan di tempat, serta keadaan keuangan Natuna yang krisis.
Menjawab asumsi itu, Ilyas menjelaskan, bahwa krisis keuangan Natuna dipicu oleh beberapa faktor, yakni turunnya harga minyak dunia, dan tidak stabilnya ekonomi secara Nasional. Hal tersebut menurutnya berimbas pada Kabupaten Natuna yang 95% pendapatannya bersumber dari dana bagi hasil Migas, sehingga pada APBD tahun 2015 terjadi defisit hampir Rp 500 Miliar.
“APBD Natuna mengalami defisit yang cukup besar, ini tentu merupakan kabar buruk buat kita semua. Dengan berkurangnya transfer dari pusat, tentu Natuna harus memangkas atau mengurangi setiap kegiatan yang ada. Namun, meskipun begitu saya tidak mau mesin penggerak roda pembangunan lumpuh,”ungkap Ilyas.
Sementara itu, lanjutnya, peraturan dari pemerintah pusat, daerah harus mengalokasikan anggaran untuk desa sebesar 10%, kesehatan 10%, dan pendidikan 20% dari APBD. Sehingga tersisa hanya 60% saja yang dapat dikelola oleh kepala daerah untuk keperluan pembangunan dan operasional pegawai, yakni gaji PTT dan tunjangan Kesra.
“Masyarakat berasumsi,bahwa masa kepemimpinan saya tidak ada pembangunan, dan memandang pembangunan hanya berbentuk fisik semata. Subsidi beras miskin dan listrik itu juga pembangunan, namun tidak semua pembangunan itu berbentuk fisik. Mengubah pola pikir masyarakat untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan juga merupakan pembangunan.”ujar Ilyas.
Jika dilihat fakta yang ada, tak bisa dipungkiri, bahwa sebagai simbol karya dimasa kepemimpinannya, Ilyas membangun Gerbang Utaraku Bandara Enclave Sipil Ranai sebagai pintu masuk investasi dan juga Pasar Modern Ranai yang akan dirampungkan pada akhir tahun 2015. Selain itu, telah banyak menyelesaikan bangunan terbengkalai peninggalan bupati terdahulu, seperti Gedung Sri Srindit, Perpustakaan Daerah, serta asrama mahasiswa di Jogjakarta dan Pontianak.
Dan, saat ini manajemen administrasi keuangan daerah harus berlangsung tertib dan transparan. Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK, dibawah kepemimpinan Ilyas Sabli dan Imalko, Natuna 3 kali berturut-turut meraih Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Artinya pengelolaan Anggaran Natuna telah sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP), terhadap Undang-Undang Keuangan, dan Efektifitas Sistem Pengendalian Internal (SPI). ■ fian

Tinggalkan Balasan