Fenomena Borong Partai Menurut Aktifis Pantura

oleh -319 views

TANGERANG, HR – Aktivis Pantura dari Desa Pekayon mengkilas balik terkait pesta demokrasi di Kabupaten Tangerang sangatlah membuat rakyatnya bingung. Menurut Akomarudin, pria kelahiran Desa Pekayon Kecamatan Sukadiri Kabupaten Tangerang ini, dalam hal kontestasi politik daerah menjadi unwise decision dalam politic, karena masyarakat di paksa untuk tidak menerima variable lain dalam bentuk pilihan.

“Sejatinya setiap parpol adalah institusi political education bagi kadernya dalam upaya meraih kekuasaan untuk people walfare, karena itu sesungguhnya tujuan dari partai politik. Namun itu gagal dilakukan oleh partai politik di tingkat daerah bahkan di tingkat pusat,” ujarnya.

Bagi petahana yang maju kembali dalam kontestasi politik, rakyat berhak menguliti segala bentuk kebijakannya “BERHASIL atau TIDAK”. Jika dianggap kebijakan petahana selama memimpin TIDAK berhasil dalam parameter yang akurat dan akuntable, maka disitulah kewenangan rakyat untuk menguliti, mengkritisi serta tidak memilih kembali calon petahana.

Fenomena calon tunggal ini juga terjadi disamping akibat dari kegagalan variable partai politik dalam mengedukasi kadernya untuk merebut kekuasaan, juga tidak bisa dipungkiri adanya politik transaksional oleh calon petahana terhadap partai partai politik, karena daya kritis parpol terhadap kebijakan petahana dalam masa jabatannya yang tereduksi. Ini adalah Kultus individu “Political personal assymption”, bisa diasumsikan kejahatan demokrasi. Sehingga pada akhirnya adanya KOTAK KOSONG, marak di setiap sudut Desa di Kabupaten Tangerang bahkan di daerah lain yang kejadiannya sama dengan Kabupaten Tangerang.

Loading...

Ini semua implikasi dari fenomena calon tunggal dalam kontestasi pilkada 2018, dengan menggunakan gaya borong partai serta transaksional di dalamnya, juga adanya people untrust terhadap parpol yang gagal mengedukasi kadernya untuk meraih kekuasaan dalam upaya melaksanakan titah AD/ART-nya dalam perhelatan pilkada. linda

Tinggalkan Balasan