BANGKA, HR – Tim dosen Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan Universitas Bangka Belitung (UBB) menggelar pelatihan produksi renggining singkong berbahan baku kepiting bakau (Scylla sp.) di Desa Pagarawan, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Pelatihan ini dipimpin tiga dosen, yakni Denny Syaputra, Sudirman Adibrata, dan La Ode Wahidin, Selasa (16/9/2025).
Ketua tim, Denny Syaputra, menjelaskan bahwa pelatihan ini menyasar istri anggota Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Kulong Kelat Sukses. Tujuannya untuk mengenalkan inovasi pangan yang menggabungkan potensi daratan dan perairan, yakni singkong sebagai hasil perkebunan dan kepiting bakau sebagai komoditas perairan.
“Renggining singkong berbahan kepiting bakau adalah hilirisasi konsep agromaritim untuk mendukung ketahanan pangan. Selama ini kepiting bakau hanya dijual segar dengan harga tinggi dan pasar terbatas. Dengan inovasi ini, kepiting bisa diolah menjadi camilan bernilai gizi tinggi,” ujar Denny.

Produk ini tidak hanya mendiversifikasi olahan kepiting bakau, tetapi juga memperkaya pangan berbahan singkong. Kandungan karbohidrat singkong berpadu dengan protein kepiting, sehingga menghasilkan camilan bergizi sekaligus lezat.
Pelatihan juga mempraktikkan cara membuat renggining. Singkong dikupas, dicuci, diparut, lalu direndam untuk mengurangi rasa asam. Setelah diperas, singkong dicampur dengan daging kepiting bakau yang telah direbus dan dilumat, bawang putih bubuk, kaldu, serta tepung tapioka.
Adonan diuleni hingga kalis, lalu diparutkan di permukaan kasar agar membentuk butiran. Setelah dicetak berbentuk lingkaran 5–7 cm, adonan dikukus 3–5 menit, dijemur, dan digoreng.
Kepala Desa Pagarawan, Ahmad Zainudin, berharap pelatihan ini berlanjut ke tahap produksi berkelanjutan. “Kami ingin pelatihan ini berdampak nyata bagi peningkatan ekonomi rumah tangga pembudidaya ikan,” ucapnya.

Perwakilan Dinas Perikanan dan Kelautan Babel, Arif Febriyanto, juga menyatakan dukungan pemerintah. Ia menekankan pentingnya sinergi antar-stakeholder untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Selain pelatihan, UBB juga melakukan riset bersama mahasiswa untuk menyempurnakan formula produk. Penelitian mencakup pengolahan renggining berbahan kepiting bakau dan cumi-cumi yang difermentasi dengan garam lalu dipanggang dengan pasir. Teknik ini bertujuan mengurangi risiko ketengikan saat produk disimpan lebih lama.
“Semoga inovasi ini memberi kontribusi nyata bagi pemulihan ekonomi masyarakat pascapandemi Covid-19,” tutup Denny. agus/denny








