CCTV Aktif, Pengawasan Mati di Rusun Pesakih

IMG 20260108 094255
Rumah Pantau CCTV di Rumah Susun (Rusun) Pesakih diklaim telah beroperasi dengan seluruh kamera dalam kondisi aktif.

JAKARTA, HR — Rumah Pantau CCTV di Rumah Susun (Rusun) Pesakih diklaim telah beroperasi dengan seluruh kamera dalam kondisi aktif. Namun klaim tersebut runtuh di lapangan. Ruang pantau yang seharusnya menjadi pusat kendali keamanan justru kosong tanpa satu pun petugas berjaga. Akibatnya, sistem pengawasan yang digadang-gadang sebagai benteng keamanan warga berubah menjadi fasilitas mandul dan nyaris tak berguna.

Keberadaan kamera pengawas tanpa petugas pemantau dinilai hanya formalitas belaka. Tanpa pengawasan real-time, CCTV tak lebih dari alat perekam pasif yang baru “berguna” setelah kejadian terjadi, itu pun jika rekamannya sempat diperiksa. Fungsi pencegahan dan respons cepat yang menjadi esensi pengamanan pun hilang sama sekali.

Bacaan Lainnya

“Kalau tidak ada yang memantau, CCTV itu cuma pajangan. Kejadian sudah lewat baru dicek, itupun belum tentu,” keluh salah satu warga dengan nada geram, Selasa (07/01/2026).

Warga menilai kondisi ini sebagai cermin buruknya manajemen pengamanan Rusun Pesakih. Sebagai hunian padat dengan aktivitas warga yang nyaris tak pernah berhenti, rusun ini justru dibiarkan tanpa pengawasan yang layak. Situasi tersebut dinilai sangat berisiko dan membuka ruang lebar terjadinya tindak kriminal.

Ironisnya, pihak pengelola justru mengakui kelalaian tersebut. Kepala Pengelola Rusun Pesakih, Muhammad Ali, menyatakan hingga kini belum ada petugas khusus yang ditugaskan untuk menjaga dan memantau Rumah Pantau CCTV. Pengelola berdalih masih dalam tahap pengaturan sistem penjagaan dan pembahasan internal.

“Kami akui rumah pantau sudah aktif, tetapi petugas pemantau belum ditetapkan secara khusus. Masih dalam tahap penyesuaian,” ujar Muhammad Ali.

Pengakuan ini semakin memicu kemarahan warga. Mereka mempertanyakan logika pengelola yang berani menyatakan fasilitas telah beroperasi, sementara unsur paling krusial, petugas pemantau justru belum disiapkan. Bagi warga, ini bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan bentuk abai terhadap keselamatan penghuni.

Warga mendesak pengelola untuk berhenti menjadikan CCTV sebagai laporan administratif semata. Mereka menuntut sistem keamanan dijalankan secara utuh dan serius, mulai dari penempatan petugas siaga, prosedur pemantauan yang jelas, hingga respons cepat saat insiden terjadi.

“Jangan cuma dilaporkan sudah ada CCTV, tapi kenyataannya tidak melindungi siapa pun,” tegas salah satu tokoh warga.

Hingga kini, warga Rusun Pesakih masih menunggu langkah nyata. Mereka berharap Rumah Pantau CCTV benar-benar difungsikan sebagai garda terdepan keamanan, bukan sekadar ruangan berisi layar yang dibiarkan kosong, sementara rasa aman warga terus dipertaruhkan. •didit

[rss_custom_reader]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *