DENPASAR, HR — Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bali (BPBD Bali) memperkuat resiliensi bencana melalui kick-off Rapat Koordinasi Rencana Kerja Tahunan 2026, Kamis (19/2). Kegiatan ini berlangsung bersama Program SIAP SIAGA (Kemitraan Australia–Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana) serta sejumlah instansi dan organisasi mitra.
BPBD Bali menilai dampak bencana tidak hanya disebabkan kejadian alam, tetapi juga dipengaruhi tingkat paparan, kerentanan, dan kesiapsiagaan masyarakat. Oleh karena itu, BPBD memperkuat pendekatan sistem menyeluruh dan kolaborasi lintas sektor untuk membangun manajemen risiko bencana yang efektif dan berkelanjutan.
Head of Sub-National Programs Program SIAP SIAGA, Deswanto Marbun, menyebut forum ini sebagai momentum menyelaraskan program dan prioritas daerah.
“Kami berharap forum ini menyelaraskan kesepahaman, memperkuat komitmen lintas sektor, serta memberikan masukan konkret untuk implementasi di lapangan. SIAP SIAGA berkomitmen mendukung perlindungan seluruh lapisan masyarakat Bali saat terjadi bencana,” ujarnya.
Kepala Pelaksana BPBD Bali, I Gede Agung Teja, menegaskan penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab semua pihak.
“Bencana pasti terjadi dan berulang, sehingga kolaborasi menjadi keniscayaan,” kata I Gede Agung Teja. Ia menambahkan pentingnya rasa memiliki terhadap program, integrasi, dan keberlanjutan kegiatan untuk membangun ketangguhan daerah.
“Kegiatan seperti ini perlu dilakukan secara berkala. Kolaborasi dan dukungan yang sudah terbangun harus terus kita lanjutkan dan kuatkan,” tambahnya.
Sejumlah inisiatif kolaboratif telah dijalankan, antara lain peluncuran Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB) pada Oktober 2025, pengembangan Kampus Siaga Bencana (KSB) di 35 perguruan tinggi swasta, serta Sertifikasi Kesiapsiagaan Bencana di sektor pariwisata. Pendampingan desa adat juga dilakukan melalui Forum Pengurangan Risiko Bencana.
Pada 2026, BPBD Bali dan mitra memprioritaskan delapan program, termasuk penguatan Kecamatan Tangguh Bencana (KENCANA), penyusunan kebijakan dan strategi penanggulangan, pemetaan risiko berbasis data, kolaborasi pentahelix kesiapsiagaan, peningkatan kapasitas tanggap darurat dan pascabencana, serta penguatan logistik dan peralatan.
Dengan langkah-langkah ini, BPBD Bali berharap sinergi lintas sektor semakin solid sehingga penanggulangan bencana berjalan berkelanjutan dan meningkatkan keselamatan masyarakat Bali. dyra






