Beratnya Perjuangan Petani

oleh -278 views
OKUT, HR – Nasi putih terhidang di meja makan, itu karena siapa? Itu adalah salah satu potongan lirik dari sebuah lagu yang dulu mungkin pernah kita dengar. Nasi putih tersebut bukanlah hal yang instan tersedia dengan mudahnya. Itu berawal dari perjuangan para petani kita di sawah/ladangnya. 
Nampak seorang petani menghalau burung pemakan padi. 
Inzet: Kerusakan padi akibat diserang hama burung.
Bermula dengan penyemaian padi,mencabut benih , menanam benih padi, sampai perawatan padi, baik itu pemupukan, penyemprotan anti hama, anti gulma, dan menjaga serangan dari darat berupa tikus atau bahkan serangan dari udara berupa burung, dan lainnya.
Intinya tidak mudah, tidak sesimple yang kita bayangkan. Dari mulai penyemaian bibit sampai panen diperkirakan petani butuh waktu sekitar 3 bulan untuk mendapatkan buah bulir padi yang nantinya digiling dan menjadi beras. Di Oku Timur akhir-akhir ini penanaman padi tidak serentak, yang mengakibatkan serangan udara berupa burung-burung kerap menjadi masalah yang tidak bisa diabaikan. 
Jika proses penanaman padi pemerintah sudah bisa menghadirkan teknologinya seperti obat semprot hama wereng, pupuk juga tersedia, mesin pemanen pun sudah cukup maju, alat pembunuh tikus juga dibuat. Namun khusus untuk antisipasi serangan udara ini sepertinya belum ada alat yang cukup baik yang bisa diandalkan. 
Seperti di salah satu desa, warga harus rela sejak pagi turun ke sawah untuk mengusir burung-burung pemakan padi, bahkan sampai menjelang magrib masih di sawah untuk menjaganya. Alat yang digunakan untuk mengusir burung-burung masih sangat sederhana berupa kaleng yang diisi batu agar berisik atau bahkan cuma tali yang digantungi plastik-plastik bekas. Mungkin pemerintah bisa menghadirkan alat/ teknologi yang bisa mengatasi masalah serangan udara ini. 
”Saya sudah sejak pagi tadi udah ke sawah ini, biasanya pulang untuk masak jam 10.00, siang /sore ke sawah lagi sampai menjelang magrib.Jika gak begini bisa gak panen, lihat saja padi yang sudah termakan burung, sudah hampir setengahnya,”kata salah satu ibu tani. Melihat perjuangan petani ini, begitu beratnya perjuangan petani untuk menghasilkan padi. Mestilah kita ambil hikmahnya, agar kita tidak menyia-nyiakan nasi. abdulah

Tinggalkan Balasan