Inflasi Bali 2025 Tembus 2,91 Persen, Tertinggi dalam Tiga Tahun Terakhir

DENPASAR, HR — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat inflasi di Bali pada Desember 2025 sebesar 0,7 persen secara bulanan (month to month). Sementara itu, inflasi tahunan (year on year) sekaligus inflasi tahun kalender 2025 tercatat 2,91 persen, menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menjelaskan, angka inflasi tahunan tersebut lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya, namun masih berada dalam rentang target pemerintah yang berkisar 2,5–3,5 persen.

“Target tertingginya 3,5 persen, dan inflasi Bali 2025 masih di bawah 3 persen. Jadi belum bisa dikatakan tinggi, meski jika dibandingkan dua tahun sebelumnya memang mengalami kenaikan,” ujar Agus.

Berdasarkan rilis BPS Bali, inflasi Bali pada 2023 tercatat 2,77 persen, sementara pada 2024 sebesar 2,34 persen.

Agus menyebutkan, inflasi bulanan Desember 2025 didominasi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi 2,11 persen dengan andil 0,67 persen dari total inflasi bulanan 0,7 persen.

Selain itu, beberapa kelompok pengeluaran lain juga mengalami inflasi, antara lain kelompok transportasi sebesar 0,79 persen dengan andil 0,08 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,17 persen, serta kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,15 persen.

Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran mengalami deflasi. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rumah tangga mengalami deflasi 0,18 persen, sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat deflasi cukup dalam sebesar 0,69 persen.

Menurut Agus, dinamika inflasi Bali sepanjang 2025 dipengaruhi faktor musiman dan kebijakan tertentu. Pada awal tahun, kebijakan diskon tarif listrik 50 persen menahan laju inflasi dan bahkan memicu deflasi pada Februari. Namun, berakhirnya diskon tersebut pada Maret mendorong inflasi cukup tinggi, ditambah momentum Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri.

“Di akhir tahun, inflasi bulanan relatif tinggi sebesar 0,70 persen dipicu oleh perayaan Natal, libur Tahun Baru, serta kenaikan harga emas,” jelasnya.

Secara komoditas, inflasi Desember 2025 terbesar berasal dari cabai rawit yang mengalami kenaikan harga hingga 96,39 persen dengan andil 0,31 persen. Bawang merah naik 33,16 persen dengan andil 0,23 persen, sementara daging ayam ras dan tomat masing-masing mengalami inflasi 3,34 persen dan 43,01 persen.

Sebaliknya, sejumlah komoditas menahan laju inflasi, seperti kangkung, cabai merah, pisang, dan beras yang tercatat mengalami penurunan harga.

Untuk inflasi tahunan 2025 sebesar 2,91 persen, hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Kontributor terbesar tetap berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 4,90 persen dan andil 1,53 persen. Selanjutnya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 3,78 persen dengan andil 0,36 persen, kelompok pendidikan sebesar 3,14 persen dengan andil 0,21 persen, serta kelompok transportasi sebesar 1,83 persen dengan andil 0,20 persen.

Agus menegaskan, kenaikan inflasi sepanjang 2025 terutama dipicu oleh gangguan produksi dan distribusi pangan, khususnya akibat faktor cuaca dan hambatan distribusi dari Jawa ke Bali.

“Produksi menurun akibat kemarau basah, ditambah gangguan jalur distribusi Jawa–Bali, sehingga terjadi lonjakan harga,” jelasnya.

Berdasarkan wilayah, seluruh daerah Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali mengalami inflasi baik secara bulanan maupun tahunan. Inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kota Denpasar sebesar 3,45 persen, sementara terendah tercatat di Kabupaten Badung sebesar 2,37 persen.

Sementara itu, Kabupaten Tabanan mencatat inflasi tahunan 2,70 persen, dan Kota Singaraja sebesar 2,51 persen. dyra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *