PONTIANAK, HR — Industri kelapa sawit selama ini dikenal melalui angka ekspor dan produk turunannya. Namun di balik jutaan ton produksi, terdapat kekuatan besar berupa keberagaman sumber daya manusia.
Sebagai salah satu perusahaan sawit terbesar di dunia, PTPN IV PalmCo menaungi 69.455 tenaga kerja dari berbagai latar belakang suku bangsa. Data demografi perusahaan per Desember 2025 mencatat sedikitnya 55 suku bangsa bekerja dalam satu ekosistem korporasi.
Komposisi tersebut mencerminkan luasnya keberagaman Nusantara, mulai dari Jawa, Batak, Melayu, Dayak, Minang, Bugis, hingga Ambon, Flores, dan Papua. Keberagaman ini menjadikan PalmCo layaknya miniatur Indonesia di sektor perkebunan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menegaskan keberagaman tersebut merupakan kekuatan strategis yang perusahaan kelola secara sadar.
Menurutnya, percampuran budaya melahirkan tim kerja yang saling melengkapi dan meningkatkan produktivitas.
Ia juga mencontohkan praktik toleransi yang berjalan alami dalam operasional perusahaan, seperti saling membantu saat hari raya sehingga kegiatan produksi tetap berjalan.
Fenomena multikultural ini dinilai sejalan dengan pandangan Direktur Eksekutif PASPI, Tungkot Sipayung, yang menyebut industri sawit sebagai agen pemerataan ekonomi sekaligus pembentuk struktur sosial majemuk.
Sejumlah pakar agribisnis juga menilai keberagaman tenaga kerja menjadi bagian penting dalam keberlanjutan sosial dan standar global seperti ISPO dan RSPO.
Dari sisi usia, mayoritas tenaga kerja berada dalam kelompok produktif, dengan 27 persen berusia 31–40 tahun dan 41 persen berusia 41–50 tahun.
Manajemen optimistis kekayaan budaya tersebut menjadi energi utama dalam meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung ketahanan pangan dan energi nasional. lp






