DOLOKSANGGUL, HR — Seorang pelajar berinisial NB (17) diduga menjadi korban pengeroyokan di halaman SMK Negeri 2 Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Jumat (16/10/2026). Akibat kejadian tersebut, NB mengalami memar pada telinga kanan dan mengeluhkan nyeri di sejumlah bagian tubuh.
NB mengaku mendapat tendangan berulang kali dari sejumlah siswa yang diduga terlibat. Ia menduga kekerasan itu bermula ketika dirinya menolak memberikan uang untuk membeli rokok.
“Mereka beramai-ramai menendang. Ada yang mengenai betis, lengan, dan punggung saya. Paling terakhir yang saya ingat, saya dipukul sangat keras di bagian telinga kanan. Saat itu, telinga saya langsung berdengung,” ujar NB saat menjalani perawatan di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Doloksanggul. Saat itu, ia didampingi orang tua dan personel kepolisian.
Beberapa jam setelah kejadian, NB bersama orang tuanya melaporkan dugaan penganiayaan tersebut ke Polres Humbang Hasundutan. Dalam laporan itu, NB menyebut lima nama yang diduga terlibat.
Laporan tersebut tercatat di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Humbahas dengan nomor LP/B/161/X/2026/SPKT/POLRES HUMBANG HASUNDUTAN/POLDA SUMATERA UTARA.
Kasatreskrim Polres Humbahas, AKP Hitler Hutagalung, membenarkan adanya laporan dugaan penganiayaan tersebut. Ia menyatakan kepolisian akan segera menindaklanjutinya.
“Akan ditindaklanjuti secepatnya,” ujarnya saat dikonfirmasi.
NB menuturkan, peristiwa itu bermula ketika seorang temannya dimintai uang untuk membeli rokok. Temannya kemudian memberikan uang sebesar Rp2.000. Namun, NB menduga jumlah tersebut belum memenuhi permintaan sehingga dirinya yang berada di samping temannya ikut menjadi sasaran.
“Pertama-tama, teman saya yang dipalak. Dikasihlah dua ribu. Karena mungkin masih kurang, saya yang kebetulan berada di samping teman saya akhirnya ikut menjadi sasaran,” ungkapnya.
NB mengaku tidak memiliki uang untuk diberikan. Ia menduga penolakan tersebut memicu kekerasan terhadap dirinya. Menurut keterangannya, para siswa yang diduga terlibat berasal dari kelas dan jurusan berbeda.
Kepolisian diharapkan mendalami laporan tersebut, memeriksa saksi-saksi, serta mengumpulkan bukti untuk mengungkap kronologi dan pihak-pihak yang bertanggung jawab. Dugaan keterlibatan masing-masing siswa perlu dipastikan melalui proses penyelidikan.
Kasus ini juga kembali memunculkan perhatian terhadap keamanan pelajar di lingkungan pendidikan di Humbahas. Pada akhir April 2026, seorang siswa berinisial BRS (17), pelajar SMA Swasta HKBP Doloksanggul, dilaporkan meninggal dunia dalam insiden kekerasan antarpelajar. Dalam peristiwa berbeda tersebut, seorang siswa berinisial TM (16), yang disebut sebagai pelajar SMK Negeri 2 Doloksanggul, diduga terlibat.
Kedua peristiwa itu merupakan kasus berbeda. Namun, dugaan pengeroyokan terbaru ini menegaskan pentingnya upaya pencegahan kekerasan, pengawasan di lingkungan sekolah, serta penanganan laporan secara serius oleh pihak terkait.
Hingga berita ini disusun, pihak kepolisian telah membenarkan penerimaan laporan dan menyatakan akan menindaklanjutinya. Perkembangan penyelidikan selanjutnya diharapkan dapat memberikan kejelasan bagi korban dan keluarganya.
