Pelatihan TIK Buka Peluang Ekonomi Digital bagi Disabilitas

MAJALENGKA, HR — Pelatihan TIK Kewirausahaan Inklusif 2025 kembali membuka ruang pembelajaran digital bagi kelompok prasejahtera dan penyandang disabilitas. Kegiatan yang digelar hasil kolaborasi DNIKS dan BAKTI Komdigi ini diikuti ratusan peserta yang ingin masuk ke dunia ekonomi digital.

Ketua Pelaksana, RA Loretta Kartikasari atau Dya Loretta, menjelaskan bahwa pelatihan tidak hanya fokus pada peningkatan keterampilan, tetapi juga pada perubahan cara pandang peserta terhadap kemampuan mereka. “Banyak dari mereka merasa kemampuan digital bukan untuk mereka. Dengan pendampingan yang tepat, mereka bisa menguasai hal-hal yang sebelumnya dianggap mustahil,” ujarnya, Jumat (21/11/2025).

Ia menegaskan bahwa penyandang disabilitas dan masyarakat prasejahtera memiliki hak serta peluang yang sama untuk berperan dalam ekonomi digital. “Kami ingin memastikan mereka bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga pelaku ekonomi digital. Mereka bisa membuat konten, mempromosikan produk, bahkan menciptakan lapangan kerja,” tambahnya.

Ketua Umum DNIKS, Dr. H. A. Effendy Choirie, menyampaikan bahwa transformasi digital harus memberikan keadilan bagi seluruh kelompok masyarakat. “Teknologi tidak boleh menciptakan jurang baru, tetapi harus menjadi jembatan yang menarik mereka yang tertinggal,” tegasnya.

Kepala BPPTIK Komdigi Cikarang, Hamdani Pratama, menekankan pentingnya keberanian menghadapi era digital. “Pelatihan ini bukan soal perangkat canggih, tapi keberanian memulai. Kami ingin tempat ini menjadi ruang inkubasi bagi keberdayaan digital,” ujarnya.

Pelatihan berlangsung dua hari dengan dua modul utama: “Jualan Laris Lewat Video HP” dan “Optimasi Konten Video dengan AI Sederhana.” Hari pertama berisi materi teknik perekaman, storytelling, dan pengemasan produk menggunakan ponsel. Hari kedua memperkenalkan penggunaan kecerdasan buatan untuk penyusunan naskah dan optimalisasi video.

Pendampingan disiapkan secara intensif, mulai dari penerjemah bahasa isyarat hingga penyesuaian tempo belajar. Peserta datang dengan berbagai kebutuhan: tunadaksa yang mendorong kursi roda sendiri, peserta tuli yang duduk dekat penerjemah, hingga peserta tunagrahita yang didampingi secara khusus.

Meski berbeda latar, mereka hadir dengan semangat yang sama: memahami dunia digital yang selama ini terasa jauh. lintong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *