MAJALENGKA, HR – Pemerintah Kabupaten Majalengka resmi menetapkan peringatan Hari Jadi Kabupaten Majalengka (HJKM) ke-186 pada 11 Februari 2026. Penetapan ini mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2025 yang menetapkan tanggal lahir Majalengka pada 11 Februari 1840, menggantikan ketentuan sebelumnya 7 Juni 1490.
Peringatan HJKM ke-186 mengusung tema “Menapak Sejarah, Bangun Kolaborasi dan Inovasi Menuju Majalengka Langkung SAE”. Tema ini mengajak masyarakat memahami sejarah sebagai fondasi pembangunan, memperkuat kolaborasi lintas elemen, serta mendorong inovasi berkelanjutan demi mewujudkan visi pembangunan Majalengka 2025–2029.
Bupati Majalengka, H. Eman Suherman, menekankan pentingnya penetapan tanggal baru sebagai langkah meluruskan sejarah daerah.
“Ini bukan sekadar perubahan tanggal, tetapi bentuk komitmen untuk menghormati sejarah Majalengka secara akademis dan bertanggung jawab. Sejarah menjadi pijakan melangkah ke masa depan,” ujarnya usai Rakor, Senin (26/1/2026).
Bupati menambahkan, peringatan ini menjadi momentum kebangkitan bersama seluruh elemen masyarakat. “Kami mengajak semua masyarakat memperkuat persatuan, meningkatkan kolaborasi, dan menghadirkan inovasi demi pembangunan Majalengka yang berkelanjutan,” katanya.
Ketua Panitia HJKM ke-186, Agus Suratman, menjelaskan rangkaian kegiatan meliputi bakti sosial seperti operasi katarak, khitanan massal, pelayanan kesehatan gratis di puskesmas, pagelaran seni dan budaya, lomba olahraga, pameran promosi daerah, serta Mapag Kasaean sebagai simbol menyambut kebaikan bagi Kabupaten Majalengka.
Sebelum puncak peringatan, pada 10 Februari 2026 akan digelar ziarah ke makam tokoh-tokoh penting Majalengka, termasuk Makam Pangeran Muhammad, Makam Siti Armilah/Mbah Badori, dan Makam Bupati Pertama R.A.A. Kertadiningrat di Girilawungan, diikuti Bupati, Wakil Bupati, Forkopimda, pejabat daerah, dan tamu undangan.
Puncak HJKM ke-186 berlangsung 11 Februari 2026 dengan Sidang Paripurna DPRD Kabupaten Majalengka dan Upacara Adat Mapag Pataka menampilkan Sanggar Sunda Rancage dengan busana adat khas Sunda sebagai simbol pelestarian budaya lokal.
Melalui peringatan ini, Pemkab Majalengka mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan sejarah sebagai pijakan, memperkuat kolaborasi, dan terus berinovasi mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan dan berkeadilan. lintong






