MAJALENGKA, HR – Data kemiskinan Jawa Barat 2024 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) bukan sekadar angka. Angka itu mencerminkan kesejahteraan rakyat, efektivitas kebijakan, dan menjadi ujian nyata bagi pemimpin baru hasil Pilkada 2024.
Tujuh daerah mencatat tingkat kemiskinan di atas 10 persen. Indramayu memimpin dengan 11,93%, disusul Kuningan 11,88%, Kota Tasikmalaya 11,10%, Majalengka 10,82%, Bandung Barat 10,49%, Kabupaten Tasikmalaya 10,23%, dan Cianjur 10,14%. Angka tersebut menggambarkan ribuan keluarga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Situasi ini menjadi sorotan karena muncul di tengah euforia transisi kepemimpinan baru. Daerah seperti Kuningan, Majalengka, dan Bandung Barat kini dipimpin wajah-wajah baru yang membawa janji perubahan. Mereka berkomitmen menurunkan angka kemiskinan, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan warga. Kini saatnya janji itu diuji oleh realitas.
Pertanyaannya sederhana: langkah apa yang akan mereka ambil? Apakah cukup melanjutkan program lama dengan kemasan baru, atau berani menciptakan terobosan berbasis data yang tepat sasaran?
Angka kemiskinan di atas 10 persen merupakan sinyal bahaya yang menuntut tindakan cepat. Pemerintah daerah harus memperkuat jaring pengaman sosial, menciptakan lapangan kerja riil, dan menyediakan pelatihan keterampilan sesuai kebutuhan industri. Selain itu, program pemberdayaan ekonomi lokal perlu dijalankan secara berkelanjutan.
Pemimpin baru tak memiliki banyak waktu untuk beradaptasi. Masyarakat kini menuntut bukti nyata, bukan retorika politik. Mereka ingin melihat angka kemiskinan turun dan kesejahteraan meningkat.
Tahun 2025 menjadi ujian penting bagi kepala daerah hasil Pilkada. Inilah momen untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekadar piawai berkampanye, tetapi juga mampu mengubah data menjadi aksi, angka menjadi solusi, dan janji menjadi kenyataan.
Jika mereka berhasil, bukan hanya grafik BPS yang membaik. Kepercayaan publik akan tumbuh, dan legitimasi kepemimpinan mereka akan menguat. Namun jika gagal, lima tahun ke depan akan menjadi catatan tentang kesempatan yang terbuang dan rakyat yang kembali kecewa.
Rakyat kini menunggu. Bukan dengan kesabaran tanpa batas, tetapi dengan harapan yang masih menyala. Jangan biarkan harapan itu padam. lintong








