103 Ribu UMKM Bali Terima KUR Rp8 Triliun, Dorong Ekonomi Kerthi dan Lapangan Kerja Baru

DENPASAR, HR – Sebanyak 103 ribu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bali menerima fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai total Rp8 triliun. Program ini merupakan inisiatif Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melalui kerja sama dengan bank daerah untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan mendorong transformasi ekonomi berbasis potensi lokal.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, penyaluran KUR memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, terutama dalam penyerapan tenaga kerja.

“Rata-rata satu UMKM melibatkan tiga karyawan. Kalau ada 100 ribu penerima KUR di Bali, berarti tercipta sekitar 300 ribu lapangan kerja,” ujarnya, Selasa (21/10/2025).

Penerima KUR di Bali mendapatkan pinjaman bervariasi antara Rp10 juta hingga Rp500 juta. Provinsi Bali sendiri menyumbang lebih dari 12 persen dari total nasional penerima KUR, yang mencapai 800 ribu UMKM.

Koster menilai, capaian ini menunjukkan bahwa pelaku UMKM di Bali aktif dan mendapat pembinaan yang baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

“Sektor IKM, UMKM, dan koperasi adalah pilar Ekonomi Kerthi Bali yang menjadi arah transformasi perekonomian daerah. Saya berharap usaha mereka makin maju, produktif, dan berkontribusi besar bagi ekonomi Bali,” katanya.

Ia menambahkan, sektor perdagangan, makanan-minuman, serta kriya dan kerajinan menjadi penerima manfaat terbesar dari program KUR. Pemerintah Provinsi Bali juga mengingatkan pentingnya penggunaan dana KUR secara bertanggung jawab agar tidak menimbulkan kredit bermasalah.

“Rasio kredit macet UMKM di Bali sangat kecil, hanya sekitar 2 persen. Artinya, kesadaran pelaku usaha cukup baik,” jelas Koster.

Salah satu penerima KUR, I Gusti Bagus Widiat Puja (35), pengrajin kendang asal Abian Kapas, Denpasar, mengaku pinjaman sebesar Rp500 juta sangat membantu memperkuat modal usaha.

“Modal itu saya gunakan untuk membeli kayu, karena bahan baku sering rebutan. Dengan stok cukup, produksi bisa lebih lancar,” tuturnya.

Dalam sebulan, ia mampu menjual lebih dari 10 pasang kendang dengan harga sekitar Rp6 juta per pasang. Sebagian besar produk dijual ke luar daerah seperti Lampung dan Sulawesi.

Widiat Puja membayar angsuran sebesar Rp7,8 juta per bulan selama lima tahun dengan bunga rendah, di bawah 1 persen. Saat ini, ia mempekerjakan empat orang dan berencana membuka cabang di Singaraja, kampung halamannya.

Dengan meningkatnya jumlah UMKM yang mengakses pembiayaan, Pemprov Bali optimistis sektor UMKM akan semakin mandiri dan menjadi penggerak utama ekonomi daerah. dyra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *